Kesetaraan dan Kurikulum

Dalam masyarakat modern, sekolah tidak semata-mata dilihat sebagai institusi pendidikan yang mengajarkan kurikulum tradisional. Sekolah dituntut untuk mendidik siswa yang mampu mengikuti perkembangan zaman. Untuk itu, sekolah harus menambah beberapa mata pelajaran yang relevan dengan kebudayaan modern.

G. H. Bantock mengeritik sistem pendidikan yang mengabdi pada kebudayaan  modern. Ia mengatakan bahwa pendidikan dewasa ini telah meninggalkan tugas utamanya sebagai pengajar. Sekolah berkonsentrasi untuk mempersiapkan siswanya  agar mampu mengikuti perkembangan dunia modern. Bahkan ada sekolah khusus yang mendidik agar siswanya menjadi pedagang yang sukses.[1]

Keberatan Bantock terhadap sistem pendidikan seperti ini dilawan dengan argumentasi berikut. Nilai pendidikan merupakan nilai yang bersifat prima facie. Artinya, nilai pendidikan dapat disisihkan bila ada nilai lain yang lebih penting dan mendesak. Misalnya, ketika perang berkecamuk  kegiataan belajar-mengajar akan ditunda agar siswa dapat membantu tentara melawan musuh. Contoh ekstrim ini hendak menjelaskan bahwa situasi masyarakat mempengaruhi dinamika pendidikan. Bagaimanapun pendidikan tidak dapat melepaskan diri dari tawaran nilai yang sedang tumbuh dalam masyarakat itu sendiri. Dalam pengertian inilah nilai-nilai kebudayaan modern dapat dijadikan sebagai materi pelajaran di sekolah. Materi itu sendiri harus sesuai dengan kemampuan siswa.[2]

Tampaknya Bantock tidak cukup puas dengan argumentasi ini. Ia melihat bahwa kebudayaan modern adalah racun bagi kaum muda. Iklan seronok dan berita-berita sensasional di media massa merupakan ancaman bagi moralitas kaum muda. Sekolah yang diharapkan sebagai benteng moral tidak sanggup lagi menahan  serangan ‘kejahatan’ kebudayaan modern. Sebab, sekolah sendiri telah terjebak dalam arus kebudayaan modern itu. Untuk mengatasi problematika kebudayaan modern ini, Bantock menyarankan supaya sekolah mendidik siswa agar mampu mengembangkan ‘latihan perasaan’ (trainining of feelings) dan ‘kepekaan moral’ (moral sense).

Kekawatiran Bantock ini adalah gambaran ketidakpercayaan akan perkembangan yang ditawarkan oleh pendidikan yang memasukkan materi-meteri pengetahuan modern. Sikap seperti ini lebih banyak merugikan daripada menguntungkan perkembangan pendidikan  itu sendiri.

Terlepas dari penilaian negatif terhadap keberatan Bantock, apa hubungan pendapatnya dengan diskusi kesetaraan dalam pendidikan? Tuntutannya untuk menambah muatan pendidikan moral dalam kurikulum mengandaikan adanya kesetaraan dalam pendidikan. Seandainya kritikan Bantock terhadap kebudayaan modern diterima maka, kurikulum pendidikan pantas mendapat perombakan sesuai dengan solusi yang ditawarkannya. Artinya, ada sebuah kurikulum yang lebih baik dari kurikulum yang sudah ada sekarang ini. Kurikulum itu harus memenuhi dua syarat berikut yakni: dapat diajarkan dan dapat diterima oleh semua siswa. Persoalannya: apakah ada kurikulum yang sanggup memenuhi kedua syarat tersebut? Persoalan ini memperlihatkan bahwa ada tarik-menarik antara tuntutan peningkatan mutu kurikulum dengan tingkat kemampuan siswa secara keseluruhan. Di satu sisi ada kurikulum yang lebih baik  tetapi hanya dapat diikuti oleh sebagian anak yang berbakat saja. Di sisi lain ada kurikulum yang dapat diterima oleh semua anak tetapi mutunya kurang baik. Yang mana dari dua kurikulum ini akan dipilih? Sebuah pertanyaan yang cukup dilematis, bukan? [3]

Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa ia menolak adanya perubahan kurikulum yang sudah ada sekarang ini. Sebab, kurikulum saat ini sudah memenuhi tuntutan kebutuhan zaman dan kesanggupan siswa. Peningkatan mutu kurikulum selalu mengandaikan adanya peningkatan kemampuan siswa. sehingga kurikulum tetap sesuai dengan kemampuan rata-rata siswa.


[1] Ibid., hlm. 151.
[2] Cooper, David E., op. cit., hlm. 152.
[3] Cooper, David E.,op. cit., hlm. 155

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: