Relativisme Budaya

Relativisme budaya adalah sebuah aliran pemikiran dalam kebudayaan yang menolak adanya suatu klaim legitimatif yang menentukan cita rasa, aktivitas, ketertarikan dan norma-norma yang berlaku secara universal. Dalam selera musik, misalnya, musik pop tidak dapat dianggap lebih rendah daripada musik klasik; pengetahuan tentang fisika atau filsafat tidak dapat dianggap lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan pengetahuan tentang sepak bola. Berdasarkan prinsip ini kaum egalitarian menuntut keragaman kurikulum sesuai dengan latarbelakang kebudayaan  setiap siswa. [1]

Ternyata di balik tuntutan itu terdapat asumsi-asumsi kesetaraan yang segera akan dibahas:

3.1 Kurikulum adalah milik kebudayaan kelas menengah

Menurut kaum egalitarian, suatu sistem pendidikan dikatakan gagal bila anak-anak yang berasal dari kelas sosial tertentu secara teratur lebih beruntung daripada anak-anak yang berasal dari kelas sosial yang lain. Dalam pengertian inilah, mereka menuduh sistem pendidikan dewasa ini hanya menguntungkan anak-anak dari kelas menengah. Materi kurikulum dalam pendidikan adalah produk kebudayaan kelas menengah. Sejalan dengan pandangan ini, kaum egalitarian beranggapan bahwa kegagalan siswa yang berasal dari kelas buruh disebabkan karena mereka tidak mengenal produk kebudayaan yang terdapat  dalam kurikulum pendidikan. Nah, untuk mengatasi ketimpangan ini kaum egalitarian menganjurkan perombakan kurikulum. Kurikulum harus dibuat berdasarkan latar belakang kebudayaan yang dihidupi oleh siswa. Dengan demikian, siswa yang berasal dari  kelas sosial yang selama ini tidak beruntung (kaum buruh, kelas minoritas) dapat mencapai kesuksesan seperti yang dicapai oleh siswa yang berasal dari kelas menengah.

Pandangan kaum egalitarian ini tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sebab, memperbaiki kurikulum tidak menjadi jaminan bahwa setiap siswa akan mencapai tingkat kesuksesan yang sama. Selain itu, tuntutan seperti itu mengandaikan bahwa ada kebudayaan yang dianggap lebih rendah dari kebudayaan yang lain. Artinya, ada sebuah otoritas yang memiliki kewibawaan untuk mengatakan bahwa sebuah masyarakat  mengalami kemunduran dalam hal kebudayaan atau ‘dicabut dari akar budayanya’ (cultural depravation). Padahal, penilaian evaluatif terhadap sebuah kebudayaan kerap terjebak antara cultural depravation dan cultural difference (perbedaan budaya). Kerap terjadi bahwa kebudayaan X dinilai lebih rendah daripada kebudayaan Y semata-mata karena kebudayaan X berbeda dengan kebudayaan Y.[2] Kekeliruan ini dapat terjadi karena dua hal berikut, yakni :

3.1.1  Relativisme nilai dalam produk kebudayaan

Berdasarkan relativisme nilai kita tidak dapat menilai tinggi-rendahnya nilai yang terkandung dalam sebuah produk kebudayaan. Pandangan ini mengandung dua  kekeliruan sebagaimana akan dijelaskan di bawah ini:

1)      Karya-karya besar adalah milik semua orang. Karya besar seperi Bhagavad Gita; The Brothers Karamazov, Beethoven, The Critique of Pure Reason merupakan produk-produk kebudayaan yang tak ternilai harganya bagi umat manusia. Adalah kekeliruan menarik kesimpulan bahwa karya-karya itu tidak bermutu hanya karena alasan bahwa tidak semua orang dapat memahaminya. Ketidakmampuan untuk mengapresiasikan suatu produk kebudayaan tidak menyatakan bahwa produk tersebut bernilai rendah. Problematika ini mirip dengan pandangan yang mengatakan bahwa karya sastra Eropa yang termasyhur adalah lebih berguna daripada karya sastra Timur. Karya sastra Eropa adalah refleksi kebudayaan orang Eropa yang tidak terdapat dalam karya sastra Timur. Kesadaran orang Eropa hidup dalam karya sastra Eropa. Kesadaran orang Timur hidup dalam karya sastra Timur dalam suasana yang asing bagi orang Eropa. Nah, jika logika penilaian ini diterima, maka kita tidak dapat mengatakan bahwa Bhagavad Gita adalah sebuah karya besar hanya bagi orang India.  Bhagavad Gita adalah sebuah karya besar pada dirinya (as it is) – baik bagi orang India maupun bagi bangsa lain. Jadi pendapat yang mengatakan bahwa karya sastra Eropa (atau Timur) mempunyai nilai besar bagi orang Eropa (Timur) bukan merupakan pemahaman relativisme budaya.  Pendapat ini sebetulnya muncul dari fakta bahwa ada kecenderungan baik pada orang Eropa maupun pada orang Timur (Asia) untuk membaca karya sastra yang bercerita tentang kebudayaan mereka masing-masing. Fakta ini adalah sesuatu yang wajar karena setiap orang akan cenderung memilih karya yang merefleksikan pengalaman kehidupan di seputarnya.

2)      Karya-karya besar tidak selamanya menjadi milik kelas menengah. Tidak semua karya besar yang dinikmati oleh kelas menengah menggambarkan kebudayaan kelas menengah.  Majalah Times, atau teori ekonomi Karl Marx, misalnya, tidak banyak bercerita tentang kehidupan masyarakat kelas menengah.

3.1.2  Ketidaksepakatan umum

Relativisme budaya mengatakan bahwa ada ketidaksepatakan umum mengenai apa yang benar, baik, tepat atau cantik. Dalam konteks inilah kaum egalitarian mengatakan bahwa dalam dunia pendidikan terdapat ketidaksepakatan menyangkut apa yang harus dibaca, dilihat, dan dipelajari oleh siswa.

Kaum egalitarian melakukan kekeliruan ketika menafsirkan relativisme budaya. Kekeliruan itu dapat dilihat dalam dua argumentasi berikut ini:

1)      Kaum relativis jatuh dalam relativisme nilai berdasarkan ‘suka atau tidak suka’; menyenangkan atau tidak menyenangkan. Orang yang menolak nilai yang terkandung dalam produk kebudayaan hanya karena ia tidak menyukainya adalah orang yang memberikan penilaian berdasarkan kesenangan semata. Penilaian seperti ini tidak dapat dijadikan pegangan untuk mengatakan bahwa tidak ada kesepatakan umum dalam kebudayaan.

2)      Kaum relativis mencampuradukkan ketidaksepakatan moral dan perbedaan penilaian moral. Misalnya: Jakobus menyarankan supaya Dani mencuri uang, sementara Imam menyarankan kepada Dani untuk tidak melakukannya. Jakobus dan Imam sadar bahwa mencuri uang milik orang lain adalah salah secara moral. Tetapi menurut Jakobus,  mencuri bukan segala-galanya dalam hidup ini. Kasus ini adalah contoh dari perbedaan penilaian moral dan bukan ketidaksepakatan moral. Kedua-duanya menyetujui bahwa mencuri merupakan dosa. Tetapi mereka memberi penilaian yang berbeda. Jakobus merasionalisasikan pencurian demi alasan tertentu (mungkin untuk membeli obat untuk isterinya yang sedang sakit).[3]

Seseorang atau suatu kelompok dapat saja mengajukan alasan untuk menolak mata pelajaran tertentu sekalipun pelajaran itu mengandung unsur-unsur kebudayaan yang berguna bagi kelompok lain. Tapi tidak berarti bahwa seseorang atau suatu kelompok yang tidak setuju dengan nilai yang terdapat dalam produk kebudayaan itu berhak untuk menghancurkannya. Penghancuran terhadap sebuah karya kebudayaan karena tidak sanggup melihat nilai yang terkandung di dalamnya adalah tindakan anarkhis relativisme. Sejarah mengingatkan supaya tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan Plato terhadap karya Homeros.[4]

3.1.3 Relativisme moral

Relativisme moral berarti tidak ada penilaian absolut mengenai apa yang benar dan apa yang salah. Tidak sedikit filsuf yang menganut aliran ini. Protagoras, misalnya, mengatakan bahwa benar-salahnya sesuatu tergantung pada  individu yang memberi penilaian. Engels menyatakan bahwa ‘penilaian moral’ (moral judgment) tergantung pada kelas sosial tertentu;  sementara Hegel menegaskan bahwa negaralah yang menentukan penilaian mana yang benar dan yang salah.[5]

Jika relativisme moral dijadikan sebagai pijakan relativisme budaya, maka konsep hidup yang baik dan produk kebudayaan yang bermutu tergantung pada penilaian moral tertentu. Misalnya, gaya hidup Samurai mulai ditinggalkan oleh orang Jepang karena ada perubahan penilain moral terhadap gaya hidup seperti itu. Atau, tuntutan untuk menghapuskan kelas-kelas sosial (pemilik modal dan buruh) dalam teori Marx, tidak dapat dilepaskan dari penilaian moral tentang hidup yang baik. Dewasa ini berkembang pandangan bahwa mengorbankan binatang demi kenikmatan manusia dianggap tidak bermoral.

Siapa yang akan bertanggung jawab bila konsep tentang hidup yang baik tidak sesuai dengan kenyataan? Negaralah satu-satunya institusi terbesar yang memiliki wewenang untuk memaksakan konsep hidup yang baik agar sesuai dengan kenyataan. Nah, di sinilah letak kekeliruan yang terdapat dalam relativisme moral. Sebab, bila ada institusi (negara) yang memaksakan suatu konsep hidup yang baik kepada orang lain, maka relativisme moral mengalami kematianya.[6]

3.2  Kekeliruan menafsirkan Prinsip Perbedaan

Kaum egalitarian salah menafsirkan pandangan John Rawls mengenai Prinsip Perbedaan. Prinsip ini pada dasarnya menuntut bahwa setiap orang harus menerima hal yang sama. Bila terdapat perbedaan maka, perbedaan itu harus menguntungkan orang yang paling tidak diuntungkan. Berdasarkan prinsip ini kaum egalitarian menuntut supaya sekolah memberikan perhatian yang lebih besar kepada siswa yang berasal dari keluarga kaum buruh. Mereka membutuhkan perhatian lebih dari pihak sekolah agar mereka mampu mengikuti perkembangan kebudayaan. Tuntutan ini sulit diwujudkan, karena sekolah selalu akan memberi perhatian lebih besar pada anak yang lebih pandai/berbakat.[7]

Dari penjelasan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa  tuntutan keragaman kurikulum berdasarkan perbedaan latar-belakang siswa tidak dapat dipenuhi. Kurikulum pendidikan mengandung unsur-unsur kebudayaan yang berguna bagi semua siswa. Kurikulum pendidikan bukan hanya milik kelas menengah saja. Kesimpulan ini akan dipertegas dalam pembahasan berikut ini.


[1] Ibid., hlm. 134.
[2] Cooper, David E., op. cit., hlm. 139-140.
[3] Cooper, David E., op. cit., hlm .147.
[4] Cooper, David e., op. cit., hlm. 147.
[5] Idem.
[6] Ibid., hlm. 148.
[7] Cooper, David E. op. cit., hlm. 138.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: