Pendahuluan

Pembahasan tentang kesetaraan dalam pendidikan merupakan topik yang hangat pada tahun 1970-an di Amerika Serikat. Setidak-tidaknya ada beberapa buku dan tulisan mengenai kesetaraan dalam pendidikan yang diterbitkan pada tahun tersebut. Misalnya, artikel yang ditulis oleh A.H. Halsey dalam Oxford Review of Education (1975) dengan judul Sociology and The Equality Debate; buku terkenal yang ditulis oleh  Ivan Illich yang berjudul Deschooling Society (1976); karya besar  yang ditulis oleh Christopher Jencks berdasarkan penilitian terhadap siswa-siswi Amerika yang berjudul Inequaltiy (1975); The Sociology of Educational inequality (1977); kumpulan tulisan dalam buku Education Equality and Society (1975) yang diedit oleh Bryan Wilson ; buku Ethics and Education (1970) yang ditulis oleh R.S. Peters, pengamat pendidikan dan editor buku-buku mengenai pendidikan. Buku-buku yang baru saja disebutkan merupakan referensi tulisan David Cooper mengenai kesetaraan dalam pendidikan. Bila kita mengamati tahun terbitan buku-buku tersebut, tampaknya ia ingin memberi sumbangan pemikiran dalam diskusi besar tersebut.

Apakah kesetaraan dalam pendidikan dapat diwujudkan? Pertanyaan inilah yang menjadi topik pembahasan dalam Ilusi-ilusi Kesetaraan dalam Pendidikan. Dari judulnya akan segera diketahui bahwa penulis telah memperlihatkan sikap penolakannya terhadap kesetaraan dalam pendidikan sebagaimana dituntut oleh kaum egalitarian. Baginya, kesetaraan dalam arti tertentu adalah ilusi, tidak mungkin diwujudkan. Tesisnya adalah kesetaraan dalam pendidikan. Antitesisnya adalah ketidaksetaraan dalam pendidikan. Sintesisnya adalah kesetaraan dalam tingkat minimum dan ketidaksetaraan dalam tingkat maksimum. Artinya kesetaraan dalam pendidikan hanya mungkin pada level umum, di mana setiap orang dapat menggapainya, misalnya, semua anak harus dapat membaca dan menulis atau semua anak dapat masuk sekolah dasar. Tetapi kesetaraan dalam pendidikan tidak dapat dituntut pada level maksimum, misalnya, semua anak dapat masuk perguruan tinggi.

1. Alasan dan Tujuan Memilih Tema

Kami memilih tema tersebut karena tertarik pada masalah-masalah pendidikan. Kami setuju  dengan Evertt Reimer yang mengatakan bahwa sekolah adalah institusi besar yang sebanding dengan agama dan negara yang dapat merubah manusia secara massal. Kami juga setuju dengan pendapat Alvin Toffler yang mengatakan bahwa lima puluh tahun ke depan manusia masih membutuhkan sekolah. Sekolah yang baik adalah satu-satunya jalan untuk ikut serta dalam perputaran roda zaman. Hal ini telah dibuktikan oleh negara super power Amerika Serikat yang mengembuskan gerakan peduli pendidikan pada tahun 1983 dalam A Nation At Risk[1]. Gerakan ini muncul dari keprihatinan masyarakat Amerika Serikat mengenai sistem pendidikan mereka. Keyakinan kami akan pentingnya pendidikan semakin jelas bila mengamati populasi manusia. Setengah dari penduduk dunia merupakan pelajar atau berada dalam usia sekolah.

Pertanyaan berikutinya yang harus kami jawab adalah mengapa kami memilih buku tersebut. Terus terang, sejak awal kami ingin membuat sebuah penelitian lapangan tentang pendidikan, tetapi kami disarankan untuk mempelajari terlebih dahulu teori-teori tentang pendidikan.

Sebelum membaca buku ini kami memiliki keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan untuk menciptakan kesetaraan dalam status sosial dan ekonomi dalam masyarakat. Keyakinan kami itu ditantang oleh David Cooper. Ternyata apa yang kami pikirkan mengenai kesetaraan dalam pendidikan tidak sepenuhnya benar. Menurut buku ini kami tergolong seorang sosialis karena menuntut kesempatan yang sama bagi setiap orang untuk mendapat pendidikan. Tuntutan ini tidak lebih dari sebuah slogan kesetaraan  yang tidak jelas maksud dan cara untuk mencapainya. Tapi karena buku ini bersifat diskusi filosofis, tidak semua pemikirannya kami telan bulat-bulat. Untuk itu kami akan memberikan beberapa catatan kritis terhadap pendapat David Cooper tersebut.

2. Metode Pembahasan

Selain menulis ulang pemikiran David Cooper sesuai dengan urutan yang ada dalam buku tersebut dan bantuan kepustakaan, kami juga akan memberikan tanggapan kritis atas pandangannya. Adapun urutan pembahasan yang kami pakai adalah sebagai berikut.

Bab pertama:

Bab ini berbicara tentang tuntutan kesetaraan dalam pendidikan secara umum. Kaum egalitarian pada umumnya memiliki common sense bahwa kesetaraan dalam pendidikan adalah sebuah keharusan. Sayangnya, mereka tidak pernah menjelaskan bagaimana caranya untuk mencapai kesetaraan atau sisi mana dalam pendidikan yang harus disetarakan. Satu-satunya cara agar tuntutan mereka dapat diterima dalam diskusi mengenai kesetaraan, mereka harus mencari sebuah prinsip yang dapat dijadikan sebagai dasar tuntutan kesetaraan dalam pendidikan.

Bab kedua:

Bab ini berbicara mengenai sebuah masyarakat ideal yang dapat menciptakan kesetaraan dalam pendidikan. Nama masyarakat itu adalah Scholesia. Scholesia mempunyai dua sekolah, yakni Sekolah Utara dan Sekolah Selatan. Sistem dua sekolah ini mendapat kritikan tajam dari kaum egalitarian. Menurut mereka, sistem sekolah seperti ini tidak mencerminkan keadilan. Namun argumentasi mereka akan diruntuhkan oleh argumentasi David Cooper.

Bab ketiga:

Bab ini mengkritik pandangan masyarakat yang mengatakan bahwa ada hubungan lurus antara kesetaraan dalam pendidikan dan status sosial-ekonomi masyarakat. Kesetaraan dalam pendidikan tidak dengan sendirinya menciptakan kesetaraan dalam status sosial-ekonomi masyarakat. Kesetaraan status sosial-ekonomi dalam masyarakat tidak dengan sendirinya menciptakan kesetaraan dalam pendidikan.

Bab keempat :

Bab ini mengeritik pandangan yang mengatakan bahwa ketidaksetaraan dalam pendidikan disebabkan karena tidak ada pemahaman yang sama mengenai hakekat pengetahuan dan pendidikan. Karena berbicara soal ‘pemahaman’, maka bab ini tidak dapat dilepaskan dari klaim-klaim sosiologis dan epistemologis dalam pendidikan.

Bab kelima:

Bab ini mengeritik tuntutan yang mengedepankan keragaman kurikulum sesuai dengan latar belakang siswa. Tuntutan yang dilandasi oleh relativisme budaya tidak dapat dipertanggungjawabkan karena  pemahaman yang keliru mengenai relativisme budaya.

Selain pembahasan kelima bab tersebut, kami juga menambahkan rangkuman dan tanggapan kritis terhadap pemikiran-pemikiran David Cooper. Mudah-mudahan tanggapan kritis tersebut dapat menambah deretan sumbangan diskusi tentang kesetaraan dalam pendidikan.


[1] Gerakan ini lahir dari keprihatinan masyarakat Amerika Serikat terhadap mutu pendidikan yang semakin menurun. Mereka mengawatirkan bahwa hal ini dapat berdampak buruk bagi masa depan Amerika sebagai negara adi daya.  (Wynn, Ricard dan Wynn, Joanne Lindsay, 1988, American Education, New York: Harper & Row Publishers, hlm. 9.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: