Bab II

KESETARAAN DALAM PENDIDIKAN

1. Pendahuluan

Bab sebelumnya menutup pembahasan tentang kesetaraan dalam pendidikan dengan memilih Prinsip Perbedaan sebagai prinsip egalitarianisme. Maka bab ini akan membahas sejauh mana implikasi prinsip tersebut dapat diterapkan. Untuk memperjelas implementasi prinsip tersebut maka sub pokok pertama mengambarkan sebuah model masyarakat imaginatif di mana masalah sosial ekonomi tidak mempengaruhi dinamika pendidikan. Dengan demikian pendidikan tidak memberikan prospek status atau ekonomi kepada siswanya. David Cooper menyebut masyarakat imaginer itu dengan istilah Scholesia. Scholesia hanya memiliki dua sekolah saja yakni Sekolah Utara dan Sekolah Selatan. Siswa yang pandai cenderung memilih Sekolah Utara dan siswa yang kurang pandai memilih Sekolah Selatan. Selanjutnya sub pokok kedua memaparkan argumentasi untuk mempertahankan sistem ‘dua sekolah’ ini terhadap kritikan kaum egalitarian. Kaum egalitarian menolak sistem ‘dua sekolah’ karena tidak mencerminkan kesetaraan. Menurut mereka sistem ini tidak fair, karena hanya menguntungkan siswa yang pandai. Bab ini ditutup dengan argumentasi yang mempertahankan sistem Sekolah Utara dan Selatan dengan mengulas kesetaraan dan mutu pendidikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: