Masalah Egalitarian

Kaum egalitarian menilai bahwa sistem sekolah Scholesia tidak mencerminkan keadilan dalam masyarakat. Sistem sekolah seperti itu hanya menguntungkan siswa yanpandai saja. Kritikan mereka dapat dirangkumkan dalam empat butir argumentasi berikut ini:

3.1 Mendapat untung di atas penderitaan orang lain

Kaum egalitarian mengatakan bahwa siswa Sekolah Utara memperoleh keuntungan di atas penderitaan siswa Sekolah Selatan. Mereka mengatakan hal tersebut karena Sekolah Utara mendapat sumber-sumber pendidikan  yang jauh lebih baik dari Sekolah Selatan. David Cooper menolak pandangan seperti ini karena keuntungan yang diperoleh oleh siswa Sekolah Utara adalah keuntungan yang wajar. Mereka memperolehnya karena mereka berhak untuk memperoleh fasilitas yang lebih baik. Keuntungan yang diperoleh siswa Sekolah Utara tidak merugikan siswa Sekolah Selatan. Jika seorang pelari mendapat hadiah karena dia yang pertama mencapai garis finish, maka itu adalah haknya sebagai pemenang. Tapi bila ia melakukan kecurangan dengan menendang kaki lawannya saat perlombaan sedang berlangsung, maka kemengannnya itu harus dibatalkan. Siswa Sekolah Utara adalah ibarat pelari yang memenangkan lomba tanpa melakukan kecurangan. Mereka mendapat keuntungan karena mereka lebih pandai dari siswa Sekolah Selatan. Keuntungan yang mereka peroleh sama sekali tidak membuat siswa Sekolah Selatan ‘menderita’.[1]

3.2 Nasib baik

Kaum egalitarian menuduh siswa Sekolah Utara memperoleh keuntungan bukan karena usaha yang mereka lakukan tapi karena ‘nasib baik belaka’ (mere good fortune). Artinya, siswa Sekolah Utara memperoleh fasilitas pendidikan yang lebih baik hanya karena kebetulan mereka lebih pandai.

David Cooper menolak pandangan ini dengan beberapa argumentasi berikut:

1)      Prinsip dasar yang harus diterima dalam pendidikan  adalah: “…yang pantas menerima X wajar bila mendapatkannya. Sebaliknya bila ia tak pantas mendapat X, maka ia tidak boleh memilikinya.”[2] Berdasarkan prinsip ini adalah wajar bila  anak yang pandai mendapat pendidikan yang lebih baik. Artinya, anak yang pandai berhak masuk ke sekolah  yang lebih bermutu (Sekolah Utara). Persoalannya adalah bagaimana mengetahui apakah seorang anak lebih pandai dari yang lain pada saat masuk sekolah sementara Scholesia tidak mengenal sistem seleksi untuk masuk? Seperti sudah disebutkan di atas, sebelum anak memasuki dunia pendidikan formal terlebih dahulu ia mendapat pendidikan dalam keluarga. Orangtua yang baik akan dengan sendirinya tahu apakah anaknya layak masuk Sekolah Utara atau tidak.

2)      Kaum egalitarian membuat dikotomi antara ‘pantas menerima’ (deserve) dan ‘nasib baik’ (fortune). ‘Pantas menerima’ berkaitan erat dengan suatu sistem distribusi. Tetapi ‘pantas menerima’ tidak dapat menjadi argumentasi untuk membenarkan suatu sistem distribusi. Artinya, sistem distribusi ditentukan lebih dahulu kemudian dicari siapa yang pantas memperoleh (sesuatu) sesuai dengan sistem tersebut. Bukan sebaliknya, mula-mula dicari orang yang pantas menerima sesuatu lalu ditentukan sistem yang memungkinkan orang tersebut memperoleh (sesuatu) yang dimaksudkan. Sementara ‘nasib baik’ berarti memperoleh sesuatu tanpa usaha (kebetulan). Dalam setiap masyarakat termasuk Scholesia selalu terdapat anak yang dapat mengikutinya pendidikan  sampai tahap yang maksimal tetapi ada juga anak yang tidak dapat mengikuti sampai tahap tersebut. Berdasarkan kenyataan ini maka dibuatlah sistem ‘dua sekolah’ yakni Sekolah Utara dan Selatan. Sekolah Utara menampung siswa yang pandai, sementara Sekolah Selatan menampung siswa yang kurang pandai. Setelah sistem ini dibuat, maka ditentukan siapa yang pantas masuk ke Sekolah  Utara atau Sekolah Selatan. Selama sepuluh tahun sebelum masuk pendidikan formal siswa Sekolah Utara telah berjuang untuk menjadi anak yang pandai. Nasib baik yang mereka peroleh adalah bahwa mereka lahir dalam keluarga yang memberikan pendidikan yang baik sehingga mereka lebih rajin, lebih tekun daripada anak yang lain. Sifat rajin dan tekun yang mereka miliki bukan ‘emas yang jatuh dari langit’ tapi merupakan usaha nyata dalam hidup sehari-hari. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sistem Sekolah Utara dan Selatan tidak ditentukan oleh nasib baik (fortune) tetapi oleh kepantasan (deserve).[3]

3.3 Sekolah Utara adalah sekolah elitis

Kaum egalitarian menuduh Sekolah Utara sebagai sekolah elitis. Elite berarti suatu kelompok dalam masyarakat yang dianggap atau menganggap dirinya lebih unggul karena anggotanya memiliki kekuatan, bakat dan keistimewaan.[4]

Tuduhan ini mengandung dua makna, yang pertama sebagai ‘ejekan’ (boo-word) dan yang kedua sebagai sekolah khusus. Dalam pengertian pertama kaum egalitarian menggunakan kata elitis untuk menunjukkan ketidaksetujuan (baca: ejekan) terhadap sistem Sekolah Utara dan Selatan. Sistem ini seakan-akan mengandung cacat moral sehingga harus ditolak. Mereka memberi cap elitis bukan sebagai argumentasi tetapi  penilaiaan negatif (baca: ejekan) terhadap sistem ini. David Cooper  tidak mempermasalahkan penilain itu karena cap elitis yang dipakai oleh kaum egalitarian ditujukan kepada mereka yang memiliki bakat dan usaha.[5]

Dalam pengertian kedua, elitis berarti sekolah yang memiliki peraturan khusus, tujuan khusus, seleksi khusus, ciri-ciri khusus dan jumlah siswa terbatas. Gambaran elitis seperti ini mirip dengan pasukan elite dalam militer atau Sekolah Nazi Ordensburgen[6] yang mempersiapkan siswanya memasuki dunia politik. Sekolah  Utara  sama sekali tidak mengenal kriteria seperti layaknya kelompok elite di atas kecuali bahwa siswa Sekolah Utara lebih beruntung sebagaimana telah disebutkan pada bagian sebelumnya. Dengan alasan ini David Cooper menolak anggapan bahwa sistem Sekolah  Utara dan Selatan adalah sistem yang menempatkan  Sekolah  Utara  sebagai sekolah  elite.[7]

3.4 Tidak adil

Kaum egalitarian menuduh bahwa sistem Sekolah Utara dan Selatan tidak fair sehingga masyarakat tidak dapat memilih sekolah secara rasional. Dikatakan tidak fair karena masyarakat kelas menengah pada kenyataannya cenderung selalu memperoleh kesempatan yang lebih besar untuk mendapat pendidikan yang lebih baik. Untuk itu mereka menuntut Prinsip Perbedaan diterapkan dalam memilih sekolah. Artinya, distribusi pendidikan harus mengutamakan mereka yang secara ekonomi, sosial dan budaya paling tertinggal. Untuk menjamin agar distribusi itu berjalan dengan adil, maka yang melakukan distribusi adalah orang yang memahami situasi mereka. Mereka sendiri tidak terlibat dalam penetapan kebijakan distribusi kesempatan untuk memperoleh pendidikan,  karena bila mereka terlibat maka setiap orang akan membuat kriteria distribusi sesuai dengan keunggulan dirinya masing-masing.[8]

David Cooper membantah keberatan di atas dengan mengajukan beberapa alasan berikut ini:

1)      Keinginan untuk masuk sekolah tidak sama dengan keinginan untuk memenuhi ‘kebutuhan pokok’ (primary goods).  Kebutuhan pokok dapat diatur oleh orang lain, tetapi keinginan untuk masuk sekolah sangat tergantung pada pribadi yang bersangkutan. Setiap orang akan memilih sekolah sesuai dengan minat dan kemampuannya. Jadi orang yang memilih sekolah sesuai dengan keinginannya tidak dapat dikatakan irrasional.

2)      Melanjutkan pendidikan baik di sekolah Utara maupun Selatan tidak berpengaruh pada status sosial-ekonomi dan kekuasaan. Bila demikian kenyataannya, maka tidak ada bedanya  memilih Sekolah Utara atau Selatan, bukan?

3)      Setiap orang memiliki idealisme dan tujuan masing-masing ketika memilih sekolah. Jadi, tidak ada salahnya bila orang memilih Sekolah Utara atau Selatan, karena sesuai dengan maksud dan tujuan tertentu.

Dari semua penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kritikan egalitarian terhadap sistem sekolah Scholesia tidak dapat dipertanggungjawabkan. Kaum egalitarian tidak puas dengan jawaban ini. Mereka masih mengeritik Scholesia karena tidak sanggup menciptakan kesetaraan dalam mutu.  Keberatan ini mengantar kita pada pembahasan berikut ini.


[1] Cooper, David E., op. cit., hlm. 39-40.
[2] Ibid., hlm. 41.(….those who do not deserve X should not get X….those who deserve X should get X.)
[3] Cooper, David E., op. cit., hlm. 40-46.
[4] Hornby, AS., 1974, Oxford Advanced Learner’s  Dictionary of Current English, New York: Oxford University Press,  hlm. 280.
[5] Cooper, David E.,op. cit., hlm. 46.
[6] ‘Ordensburgen’ dalam bahasa Jerman artinya : benteng-benteng  yang kokoh (abad XI-XIII). Kata ini juga dipakai untuk menunjukkan lembaga Nasional Sosialis untuk membentuk elite  nasioanal sosialis.
[7] Cooper, David E., op. cit., hlm. 49 ( :….there is no special career which they are being trained to enter. The only features, then, which characterize the Northerners are their superior educational ability and the advantages they enjoy in the form of a superior education. These are surely not sufficient for labelling them an elite.)
[8] bdk. dengan penjelasan sebelumnya mengenai original position dan veil of ignorance dalam Teori Keadilan John Rawls (hlm.16).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: