Mutu dan Kesetaraan

Dalam setiap sistem pendidikan akan ditemukan siswa yang yang lebih pandai dan siswa yang lebih bodoh. Bila demikian atas dasar apakah sistem Sekolah  Utara dan Selatan dikatakan lebih baik daripada sistem-sistem yang lain? Nah, untuk menjelaskan letak keunggulan mutu sistem Sekolah  Utara dan Selatan David Cooper membedakan mutu pendidikan dalam dua kategori, yakni mutu distribusionis dan mutu ontologis.[1]

Mutu distribusionis adalah mutu pendidikan yang dicapai oleh siswa sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Sedangkan mutu ontologis adalah  mutu terbaru yang belum pernah dicapai. Pengertian ini akan lebih jelas bila diterapkan dalam contoh berikut. Sebuah perusahaan makanan mengatakan bahwa produk mereka telah mencapai mutu yang diharapkan. Mutu yang dimaksud oleh perusahaan tersebut memiliki dua pengertian. Yang pertama, mutu produk makanan itu sesuai dengan standar mutu makanan pada umumnya. Kedua, mutu produk makanan itu merupakan mutu terbaru yang belum pernah ada sebelumnya. [2]

Sistem Sekolah Utara dan Selatan dikatakan memiliki mutu distribusionis karena setiap siswa yang masuk dalam sistem tersebut akan mencapai mutu pendidikan yang sesuai dengan standar. Sistem ini dikatakan memiliki mutu ontologis karena sistem ini memungkinkan siswa (hanya sebagian kecil) Sekolah Utara mencapai taraf pendidikan yang tertinggi. Barometer mutu sistem ini ditentukan oleh mutu ontologis yang dapat dipertahankan. Bila mutu ontologis menurun (prestasi tertinggi menurun) maka secara ontologis mutu sistem ini juga turut menurun. Analogi yang menarik untuk menjelaskan penurunan mutu ontologis ini adalah grafik perkembangan mutu sepakbola suatu negara. Misalnya, mutu kesebelasan Inggris dinyatakan menurun bukan karena klub divisi IV bermain buruk, tetapi karena juara bertahan Mancester United (MU) bermain sangat buruk.[3] Untuk mempertahankan mutu ontologis harus ada peningkatan mutu dalam setiap tahun. Dengan demikian pada suatu saat akan terjadi bahwa (suatu) mutu yang dulunya adalah mutu ontologis, kini berubah menjadi mutu distribusionis. Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa mutu ontologislah yang menjadi kriteria untuk menilai pertumbuhan tingkat mutu dari sesuatu. Dunia olahraga adalah contoh yang sangat baik untuk menjelaskan kesimpulan ini. Misalnya, seorang sprinter amatir (untuk 100 m) akan menilai perkembangan dirinya berdasarkan rekor yang tercepat dalam lintasannya.

Pada akhirnya yang menjadi permasalahan  adalah apakah setiap orang harus dididik sesuai dengan mutu distribusionis atau diarahkan untuk mencapai mutu ontologis.[4] David Cooper nampaknya tidak mempertentangkan antara kedua mutu tersebut. Baginya ada jalan tengah yang dapat mempertemukan kedua mutu itu. Siswa yang memiliki kemampuan biasa-biasa saja, diarahkan untuk mencapi mutu distribusionis. Mutu ini merupakan mutu minimum yang harus dicapai oleh setiap siswa. Siswa yang berbakat dapat diarahkan untuk mencapi mutu ontologis (par excellence).

Permasalahan baru segera muncul yakni menjelaskan apa yang dimaksudkan dengan ‘mutu yang terbaik’ (excellence) dalam pendidikan? David Cooper mengakui bahwa sulit mencari kata sepakat untuk menentukan makna yang terkandung dalam pengertian mutu yang terbaik itu. Sebab setiap sekolah bahkan setiap orang memiliki pengertian sendiri-sendiri mengenai mutu yang terbaik. Kaum tradisionalis mengatakan bahwa mutu yang terbaik erat kaitannya dengan kemampuan untuk memahami (understanding), pengetahuan (kwowledge) dan apresiasi kritis (critical appreciation) terhadap situasi aktual.  Ada juga yang mengatakan bahwa mutu yang terbaik bersifat dialogis artinya baik siswa maupun pihak sekolah harus terlebih dahulu memiliki pandangan serta kemauan yang sama mengenai mutu yang terbaik sebagai syarat untuk mencapai mutu yang terbaik. Kenyataan ini membuat semakin sulit untuk menentukan makna yang terkandung dalam mutu yang terbaik itu. Akan tetapi perbedaan konsep mengenai mutu yang terbaik tidak berarti bahwa tidak ada mutu yang terbaik. Perbedaan mutu terbaik merupakan bagian dari proses pencapaian mutu yang terbaik itu sendiri.[5]

Perlu diingat bahwa perbedaan konsep tentang mutu yang terbaik dalam pendidikan tidak sama dengan perbedaan mutu yang terbaik dalam perdagangan bebas, di mana hanya ada satu produk yang akan bertahan. Dalam pendidikan perbedaan konsep mutu yang terbaik tidak saling menjatuhkan. Setiap sekolah berhak menetapkan konsep mutu yang terbaik sampai pada suatu saat ditemukan mutu terbaik yang tetap bertahan. Berdasarkan penjelasan ini pandangan Rawls mengenai original position dan veil ignorance tidak berlaku dalam dunia pendidikan. Sebab, setiap sistem pendidikan memiliki tujuan masing-masing.[6]

Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa kesetaraan mutu  hanya dapat dituntut pada level minimum (distribusionis) sementara kesetaraan ‘mutu yang terbaik’ (ontologis) hanya dapat diharapkan. Mutu yang terbaik hanya dapat diperoleh setelah mutu distribusionis dapat dipenuhi. Mutu distribusionis berlaku secara umum sementara mutu ontological berlaku secara khusus.


[1] Cooper, David E., op. cit., hlm.53.
[2] Idem.
[3] Cooper, David e., op. cit., hlm. 54.
[4] David Cooper memberi istilah lain: ‘mutu yang terbaik’ ( excellence).
[5] Cooper, David E., op. cit.,  hlm. 55-57 .
[6] Ibid., hlm. 52.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: