Lingkaran Ketidaksetaraan

Pembahasan ini berkaitan erat dengan pembahasan pada sub pokok ‘Seleksi’.  Perbedaannya adalah bahwa sub pokok ini menitikberatkan pembahasannya pada hubungan antara seleksi dalam pendidikan dan status sosial-ekonomi keluarga. Menurut kaum egalitarian akar dari ketimpangan sosial-ekonomi dalam masyarakat dapat ditarik mundur pada permasalahan seleksi dalam pendidikan yang tidak adil.[1]

Bila kasusnya seperti ini, maka permasalahannya yang sesungguhnya tidak terletak pada seleksi. Persoalannya adalah seleksi itu terlalu sulit bagi sebagian anak Fakta menunjukkan bahwa siswa dari keluarga kelas menengah memiliki tingkat kelulusan yang lebih tinggi daripada siswa dari keluarga kaum buruh. Mereka (siswa dari kelas menengah) dapat lulus, karena mereka memiliki kemampuan untuk lulus bukan karena sistem seleksi berpihak pada mereka. Keberuntungan ini, kalau hendak dikatakan keberuntungan, diperoleh karena mereka mendapat pendidikan yang lebih baik dalam keluarga.[2]

Agaknya, kaum egalitarian  mengabaikan akar ketidaksetaraan tersebut takkala mereka menuntut kesetaraan. Mereka cenderung mempermasalahkan akibat buruk dari ketidaksetaraan itu.

4.1. Melanggengkan kemiskinan

Kaum egalitaraian mengatakan bahwa sistem seleksi dalam pendidikan dewasa ini hanya menguntungkan kelas menengah saja, sementara kaum buruh semakin hari semakin tertinggal. Artinya, pendidikan turut melanggengkan kemiskinan dalam masyarakat padahal pendidikan bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan.

Menurut David Cooper pandangan ini tidak sepenuhnya benar sebagaimana tertuang dalam argumentasi berikut :

1)      Pandangan seperti ini tidak dapat diterapkan pada negara maju seperti Inggris[3] di mana masalah kemiskinan tidak menjadi persoalan sosial. Negara miskin sekalipun tidak akan membangun perguruan tinggi yang mampu menampung semua siswa sebagai solusi untuk mengatasi kemiskinan.  Malahan, negara miskin akan cenderung menerapkan saran John Rawls yang menganjurkan supaya negara miskin mengumpulkan kekayaan terlebih dahulu. Setelah kekayaan itu terkumpul lalu dibagikan kepada semua warganya secara adil. Bila saran ini diterapkan dalam pendidikan, maka negara miskin akan lebih mengutamakan pendidikan siswa yang mampu menjadi dokter atau insinyur. Untuk memperoleh sumber daya manusia seperti dokter tentu dibutuhkan seleksi yang lebih ketat. Dalam pengertian inilah seleksi selalu menguntungkan siswa yang lebih pandai.[4]

2)      Kemiskinan  bersifat relatif. Kata ‘miskin’ sendiri dapat dipakai tanpa menunjuk orang yang benar-benar miskin. Misalnya, seorang jutawan dikatakan miskin bila ia kehilangan setengah kekayaannya. Kata ini juga kerap diasosiasikan dengan mereka yang membutuhkan pertolongan padahal mereka belum tentu orang miskin. David Cooper sendiri berpendapat bahwa ‘miskin’ berarti tidak sanggup memenuhi kebutuhan dasariah seperti : makanan bergizi, sarana kesehatan, tempat tinggal, hubungan sosial, rekreasi, dan mobilitas  (mobility).  Perbedaan konsep ini menunjukkan bahwa tidak ada kriteria yang sahih untuk menjelaskan pegertian kemiskinan. Maka, adalah sesuatu yang  janggal bila  kaum egalitarian menuntut kesetaraan dalam pendidikan demi melenyapkan kemiskinan. Sebab, pembahasan tentang kemiskinan saja sudah menunjukkan adanya perbedaan konsep. Bila konsep saja sudah berbeda apalagi implementasinya. [5]

4.2. Melanggengkan struktur kelas

Dampak lebih jauh yang dituduhkan oleh kaum egalitarian terhadap sistem seleksi adalah kepincangan struktur kelas sosial dalam masyarakat yang diciptakan oleh sistem pendidikan. Masyarakat kelas menengah akan tetap berada dalam status sosial-ekonomi yang lebih tinggi, sementara kaum buruh tetap berada dalam status sosial-ekonomi yang rendah.  Persoalannya adalah apakah struktur kelas seperti itu dapat dilenyapkan dari muka bumi ini? Adalah Karl Marx yang memelopori penghapusan kelas sehingga tidak ada lagi kelas pemilik modal  dan kaum buruh. Dengan demikian, tidak ada lagi ‘kelas penguasa’ yang menguasai alat-alat produksi dan kaum buruh yang tidak mempunyai apa-apa kecuali tenaga.

Peniadaan struktur kelas dalam gambaran Karl Marx tidak akan mengubah struktur sosial-ekonomi masyarakat. Masyarakat akan tetap terbagi dalam sistem ‘pembagian kerja’ (division labour) dan pendapatan. Pembagian tersebut pada gilirannya akan menciptakan perbedaan struktur sosial-ekonomi dalam masyarakat.[6] Dalam pengertian inilah pendidikan tidak dapat dituduh sebagai penyebab kepincangan struktur sosial-ekonomi masyarakat karena pembagian kerja dan perbedaan pendapatan tidak merupakan hasil ‘rekayasa’ pendidikan.

4.3. Latar belakang keluarga mempengaruhi seleksi

Kaum egalitarian menuduh bahwa sistem seleksi dalam pendidikan dewasa ini lebih menguntungkan anak yang berasal dari keluarga kelas menengah. Pandangan ini tidak dapat dipertanggungjawabkan. John Lucas mengatakan bahwa minat dan perkembangan kemampuan belajar anak sangat beragam dan sulit ditebak. Dalam pengertian inilah ia mendukung orangtua yang memperhatikan dan membantu perkembangan anaknya sejak dini.[7] Penelitian membuktikan bahwa perilaku orangtua khususnya perilaku verbal mereka mempengaruhi perkembangan anak. Anak dari kelurga terdidik akan tumbuh dalam suasana ‘keluarga yang kaya bahasa’ (rich linguistic environment), sehingga ia dapat memperoleh informasi yang penting, cerita-cerita yang menarik, permainan, buku-buku dan alat-alat kreativitas lainnya. Fakta ini dikuatkan oleh penelitian Coleman terhadap siswa Amerika Serikat yang menyimpulkan bahwa faktor yang paling menentukan keberhasilan siswa dalam pendidikan adalah sikap dan kebiasaan yang diperolehnya dalam keluarga dan kelompok bermain.[8]

Keuntungan seperti inilah yang dimiliki siswa yang berasal dari keluarga kelas menengah. Mereka telah mempersiapkan diri dengan lebih baik dibandingkan siswa yang berasal dari keluarga kaum buruh. Keuntungan ini tentu saja tidak dapat dijadikan sebagai alasan untuk menghapuskan seleksi dalam pendidikan sebab tidak ada satu sistem pendidikan pun yang dapat lepas dari pengaruh pendidikan dalam keluarga.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa perbedaan status sosial-ekonomi dalam masyarakat tidak dapat dijadikan sebagai alasan untuk menghapuskan seleksi dalam pendidikan. Karena berhasil tidaknya siswa dalam sebuah seleksi ditentukan oleh kemampuan belajarnya bukan status sosial-ekonomi ayah-ibunya.


[1] bdk. dengan kritikan kaum egalitarian terhadap sistem seleksi (hlm.30-31).
[2] bdk. argumentasi untuk mendukung sistem sekolah dari masyarakat Scholesia (hlm. 24).
[3] Latar belakang penulisan ini adalah situasi pendidikan Amerika dan Inggris.
[4] Cooper, David E., op. cit., hlm. 78-79.
[5] Ibid. hlm .79-81.
[6] Cooper, David E., op.cit., hlm. 82 (Abolition of classes in Marx’s sense would do nothing, in itself, to remove distinction between professional, clerical and manual workers- and nothing  in itself, to eliminate income differentials.)
[7] Lucas, J.R., 1975, Equality in Education, dalam Wilson, Bryan (ed.), Education Equality and Society,New York: Harper & Row Publishers, INC., hlm, 52-53.
[8] Wagenaar, Theodore C, 1992, The Sociology of Education dalam Edgar F. Borgatta & Navie L. Borgatta (ed), Encyclopedia of Sociology,Vol I , New York : Macmillan Publishing Company, hlm. 1335.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: