Pembauran Sosial

Pendidikan adalah anak kandung masyarakat (society). Dengan demikian masalah-masalah sosial berpengaruh langsung pada pendidikan. Tetapi hal itu tidak berarti bahwa pendidikan berada di bawah kewibawaan masyarakat seperti orangtua membesarkan anaknya yang masih kecil. Pendidikan adalah ‘embrio masyarakat’  yang akan membentuk  masyarakat sesungguhnya. Dalam konteks inilah kaum egalitarian mendesak supaya sekolah (institusi pendidikan) harus menghadirkan gambaran masyarakat yang  sesungguhnya di dalam kelas. Untuk itu mereka menuntut adanya ‘pembauran sosial’ (social mix) di lingkungan sekolah.  Pembauran sosial merupakan syarat penting bagi terciptanya iklim demokrasi dan persaudaraan masyarakat yang harmonis.

Bagaimana bentuk pembauran sosial dalam pendidikan? Siswa dari berbagai latar belakang sosial dikumpulkan dalam sekolah yang sama. Mereka diharapkan saling berkenalan dan mengunjungi sehingga tumbuhlah sikap ‘pengertian dan rasa hormat’ (understanding and respect)terhadap orang lain.  Salah satu cara untuk mengukur tingkat keberhasilan interaksi sosial pendidikan adalah adanya pakaian seragam sekolah ( untuk menghindari kelas sosial-ekonomi tertentu memamerkan statusnya) dan atribut (tulisan tertentu) pada lengan baju.[1]

Adalah John Dewey (1859-1952), penganjur pendidikan liberal dari Amerika yang menekankan pentingnya pembauran sosial dalam pendidikan. Berikut ini akan dibahas pandangannya serta kritikan David Cooper terhadap pandangan tersebut.

5.1 Pandangan John Dewey

Dalam tulisannya yang berjudul Democracy and Education, ia mengatakan bahwa demokrasi  tidak pertama-tama berangkat dari organisasi politik tetapi dari masyarakat itu sendiri. Ia memberikan dua syarat yang harus ditepati agar suatu masyarakat disebut demokratis. Pertama, dalam masyarakat terdapat semakin banyak orang ambil bagian dalam kepentingan bersama (more numerous points of shared common interest). Kedua, adanya interaksi yang semakin terbuka antara kelompok-kelompok sosial (freer interaction between social groups) dalam masyarakat. Konsep seperti inilah yang melatarbelakangi pandangannya mengenai pendidikan. Menurutnya, lingkungan sekolah harus mampu menyeimbangkan bermacam-macam unsur yang terdapat dalam lingkungan sosial (social environment) dan memberi kesempatan bagi setiap siswa untuk berhubungan baik antara mereka sendiri maupun dengan lingkungan yang lebih luas.

Menurutnya, proses belajar berarti menangkap makna dengan cara sederhana  dari sebuah praktek, benda, proses atau peristiwa. Menangkap makna berarti mengetahui kegunaannya. Sesuatu yang mempunyai makna berarti memiliki fungsi sosial. Oleh karena itu pendidikan harus mampu mengantar kaum muda untuk memahami aktivitas yang mereka temukan dalam masyarakat. Semakin banyak aktivitas yang mereka pahami berarti semakin banyak pula makna yang mereka diperoleh. Dalam pengertian inilah ia mengatakan bahwa mutu pengetahuan mempengaruhi demokrasi. [2]


5.2 Kritikan David Cooper terhadap John Dewey

5.2.1 Analisis Sintaksis :’Lebih banyak aktivitas yang dilakukan bersama’  (More shared activity )

Menurutnya, semua argumentasi John Dewey memiliki kekeliruan karena menggantungkan pandangannya tentang masyarakat yang demokratis dan harmonis pada tuntutan ‘lebih banyak aktivitas yang dilakukan bersama’. Penggunaan kata ‘lebih banyak’ (more) di depan kata benda mengandung ‘ekspresi sintaksis yang ambigu’ (syntactically ambigous exspression). Di satu sisi pernyataan tersebut mengandung tuntutan supaya lebih banyak jenis aktivitas yang dilakukan bersama. Di sisi lain pernyataan itu mengandung tuntutan supaya masyarakat melakukan aktivitas yang telah ada dengan lebih mendalam.[3]

5.2.2 Kekeliruan kesimpulan

John Dewey melakukan ‘kekeliruan kesimpulan’ (fallacious move) serperti terungkap di bawah ini:

“..kita menyadari bahwa ia berangkat dari klaim: bahwa seharusnya ada ‘sejumlah……kepentingan yang secara sadar dilakukan bersama’ – kepada klaim yang sangat berbeda yakni: seharusnya ada kepentingan-kepentingan yang dilakukan oleh semua anggota masyarakat/kelompok.”[4]

Kedua pernyataan ini memiliki pegertian yang berbeda. Pernyataan awal: ‘seharusnya ada sejumlah kepentingan yang secara sadar dilakukan bersama’- dan pernyataan ‘seharusnya ada kepentingan-kepentingan yang dilakukan oleh semua anggota masyarakat/kelompok’. Pernyataan pertama mengandung pengertian bahwa ada aktivitas atau minat yang dilakukan dengan sadar oleh anggota masyarakat (bukan semua anggota masyarakat). Sementara pernyataan kedua mengandung pengertian bahwa semua anggota masyarakat terlibat dalam aktivitas atau minat tertentu..[5]

5.2.3 Konsep mengenai ‘komunikasi’

John Dewey mengatakan bahwa komunikasi menuntut keterbukaan masyarakat untuk saling mengungkapkan aktivitas dan minatnya masing-masing. Komunikasi dalam masyarakat semakin baik bila masyarakat semakin mengungkapkan aktivitas dan minatnya. Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar karena dalam masyarakat selalu terdapat orang yang antipati terhadap aktivitas dan minat orang lain. Kenyataan ini membuktikan bahwa mengungkapkan aktivitas atau minat kepada orang lain tidak dengan sendirinya menciptakan komunikasi yang lebih baik dalam masyarakat. Malahan tindakan itu dapat saja menimbulkan konflik.

5.2.4 Konsep ‘mutu pengetahuan’ (quality of knowledge)

John Dewey tidak konsisten dengan pandangannya yang mengatakan bahwa mutu pengetahuan menentukan alam demokrasi. Sebab, di tempat lain ia menulis bahwa budaya kelas menengah cenderung bersifat eksklusif dan mempunyai nilai yang hanya berlaku untuk mereka; kreativitas seni di mata mereka hanya pameran dan bersifat artifisial; pengetahuan mereka sangat terspesialisasi; pilih bulu merupakan cara hidup mereka. Bagaimana mungkin terbentuk masyarakat yang demokratis bila salah satu dari golongan masyarakat itu menutup diri?

5.2.5  Konsep masyarakat yang harmonis

Situasi yang harmonis berarti tidak ada konflik yang melumpuhkan masyarakat. Jika konflik tetap muncul selalu ada cara dan keinginan untuk mempertahankan harmoni yang telah dibangun. Situasi yang harmonis itu hanya dapat berkembang  dalam suasana ‘saling pengertian’ (mutual understanding) antara sesama masyarakat. Saling pengertian menuntut interaksi yang lebih besar, partisipasi dalam kreativitas dan kepentingan yang sama. Melalui interaksi yang aktif, masyarakat saling memahami tujuan, permasalahan dan  cara pandang orang lain. Suasana seperti ini akan menumbuhkan saling pengertian yang pada gilirannya merupakan sesuatu yang potensial memperkecil terjadinya konflik dalam masyarakat.

Konsep masyarakat harmonis seperti ini tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sebab, berdasarkan konsep seperti ini seorang penguasa yang ‘bertangan besi’ dapat saja memaksa rakyatnya untuk hidup dalam kesatuan yang harmonis.[6] Lenin pernah berkata “Tanpa pengajaran tidak ada pengetahuan, tanpa pengetahuan tidak ada kommunisme.”[7] Mereka yang melanggar kehendak penguasa akan dituduh melakukan tindakan subversi.

Untuk memperkuat kritikannya terhadap konsep pembauran sosial, David Cooper mengutip pandangan John Lucas.

5.3. Pandangan John Lucas

Tidak jauh berbeda dengan pembahasan di atas, John Lucas dalam bukunya  Equality in Education[8] menolak pandangan tentang pembauran sosial dalam pendidikan untuk membentuk masyarakat yang harmonis. Alasannya dapat disimpulkan dalam empat butir berikut: [9]

1)      Pada kenyataannya, konflik besar justru terjadi di antara masyarakat yang memiliki status sosial yang sama. Perang besar justru dipicu oleh kecurigaan para pemimpin/penguasa.

2)      Konsep masyarakat harmonis membutuhkan sikap saling pengertian dari warganya. Untuk mengerti orang lain kita harus memiliki sikap simpati. Sikap ini menuntut kita untuk bergaul dengan orang lain. Tetapi hasil sebuah pergaulan tidak selamanya menumbuhkan sikap simpati terhadap orang lain. Sikap ini bersifat dialogis, artinya tidak semata-mata tergantung pada diri kita sendiri tetapi juga pada orang lain.

3)      Penekanan pada suasana harmonis di sekolah dapat melahirkan siswa pemerontak karena ia merasa bahwa individualitasnya terancam. Sekolah akan menolak kehadirannya karena sikapnya yang anti-harmoni tersebut. Padahal mereka adalah pribadi-pribadi yang sedang mencari jati dirinya. Dalam proses pencarian itu tak jarang kita melihat bahwa mereka memperlihatkan kegiatan yang aneh bagi kaum dewasa. Misalnya, dalam hal berpakaian, mereka suka gaya funky[10]. Selera mereka sangat berbeda dengan selera kaum dewasa sehingga kerap dinilai sebagai bentuk penyimpangan. Hal yang sama juga terjadi ketika  mereka membangun solidaritas bersama. Solidaritas kaum remaja sangat berbeda dengan solidaritas kaum dewasa. Mereka cenderung hanya bergaul dengan orang yang mereka sukai. Jika solidaritas tetap diterapkan maka mereka akan melihat pemaksaan itu sebagai bentuk tirani baru. Secara tidak sadar masyarakat (melalui sekolah) telah melahirkan kaum remaja yang mengalami frustasi. Mereka akan tumbuh menjadi anak yang anarkhis dan berubah menjadi seorang teroris remaja dalam masyarakat.

4)      Perasaan solidaritas dan kebersamaan dalam kelompok tidak menjamin bahwa kelompok itu akan tumbuh dengan baik. Ada kemungkinan bahwa perasaan solidaritas dan kebersamaan tumbuh karena memiliki ‘musuh bersama’ (common enemy). Kaum muda dapat saja menciptakan perasaan solidaritas dan kebersamaan di antara mereka dengan menghidupkan semangat anti-generasi tua.

Dari semua penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tuntutan pembauran sosial dalam sekolah tidak dengan sendirinya menciptakan masyarakat yang harmonis. Secara teoritis tuntutan ini tidak jelas maksud dan tujuannya. Dalam kenyataannya penekanan pada masyarakat yang harmonis dapat menghasilkan akibat negatif pada siswa sekolah yang merasa bahwa individualitasnya terancam.


[1] Cooper, David E., op. cit., hlm. 88-89.
[2] Cooper, David E., op. cit., hlm 91. (Learning, for Dewey is coming to grasp meanings – not of words, simply but of practices, things, process, and event as well. And to grasp meaning, it must have a public, social use).
[3] Cooper, David E., op. cit., hlm. 91.
[4] Ibid., hlm.  92 [….we see him moving from the claim that there should be  numerous…interests which are consciously shared, to the quite different claim that there should be interests of group (which) are shared by all its members.].
[5] Ibid., hlm. 92.
[6] Cooper, David E., op. cit., hlm. 93.
[7] Wilson, Bryan (ed.), op. cit., hlm.117.
[8] Lucas, J.R., 1975, Equality in Education, dalam Wilson, Bryan (ed.), New York: Harper & Row Publishers, INC.
[9] Cooper, David E., op. cit., hlm. 95-97.
[10] Funky adalah gaya berpakaian dan berdadan yang mencolok. Misalnya, blues ketat, celana jeans puntung, bersepatu keds atau kaus kaki sedengkul, rambut yang dicat berwarna terang, asesoris yang bermacam-ragam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: