Seleksi

Semua sistem pendidikan mempunyai prosedur seleksi untuk menerima siswa baru. Selain berguna untuk menentukan lulus tidaknya seorang calon, seleksi juga mampu memprediksi tingkat keberhasilan siswa dalam mengikuti pelajaran. Semakin baik sebuah seleksi semakin tinggi tingkat keakuratan prediksinya. Kenyataan ini mendapat tanggapan negatif dari kaum egalitarian seperti tertuang dalam kritikan berikut ini :

2.1 Pembuktian diri (self-verifying)

Permasalahan yang segera muncul dari seleksi dalam pendidikan adalah pandangan yang mengatakan bahwa seleksi itu memiliki kemampuan untuk membuktikan tingkat keberhasilan siswa. Artinya, seleksi dalam pendidikan menjadi ukuran apakah siswa berhasil atau tidak dikemudian hari. Dalam artian inilah kaum egalitarian menolak seleksi. Sebab, siswa yang mengalami kegagalan dalam seleksi akan kehilangan semangat belajarnya. Secara tidak langsung seleksi itu ‘memberi cap’ bahwa siswa tidak lulus seleksi adalah anak yang tak dapat berkembang.

Jika kasus seperti ini yang menjadi permasalahan seleksi dalam pendidikan, maka yang perlu dilakukan adalah bagaimana caranya menghindari peristiwa itu dan bukan meniadakan seleksi dalam pendidikan. Di bawah ini disajikan dua cara untuk menghidari kasus tersebut.

1)      Jika mayoritas siswa mengalami kesulitan untuk lulus dalam sebuah seleksi, maka seleksi itu tidak pantas dijadikan sebagai barometer self-verifying.

2)      Jika mayoritas siswa lulus dengan mudah, maka seleksi itu tidak pantas dijadikan sebagai barometer  self-verifying.

2.2 Kegagalan di kemudian hari

Permasalahan lain yang kerap muncul dalam seleksi pendidikan adalah: selalu saja ada siswa yang lulus dengan memuaskan dalam seleksi masuk sekolah, namun mengalami kegagalan dalam pendidikan lebih lanjut.

Kegagalan seperti ini tidak dapat dijadikan patokan untuk menolak seleksi dalam pendidikan. Sebab, bukan seleksinya tetapi siswa yang bersangkutanlah yang salah. Kegagalan seperti ini dapat terjadi karena siswa yang bersangkutan beralih minat atau karena ia menghadapi masalah dalam keluarganya.[1]

2.3 Talenta yang tersembunyi

Alasan lain yang kerap digunakan oleh kaum egalitarian untuk menolak seleksi adalah: seleksi tidak mampu mengungkapkan kemampuan dan bakat siswa yang terpendam. Siswa seperti ini akan berkembang bila mendapat tugas yang lebih banyak atau masuk sekolah yang memiliki ‘tuntutan belajar yang lebih  tinggi’ (demanding school).

Kasus seperti ini hanya dialami oleh siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Jalan keluarnya adalah: menciptakan kondisi yang mampu menolong siswa menemukan bakat dan kamampuannya – bukan mengahapuskan seleksi. Lagi pula kasus seperti itu hanya berlaku bagi siswa yang ‘terlambat berkembang’ (late developers) yang jumlahnya sangat kecil.[2]

Dari ketiga penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa sekalipun seleksi dalam pendidikan mengandung banyak permasalahan, namun hal tidak menyatakan bahwa seleksi harus ditiadakan demi kesetaraan dalam pendidikan.  Kaum egalitarian tentu tidak puas dengan kesimpulan ini. Sebab, mereka masih memiliki alasan lain, yakni seleksi dalam pendidikan hanya menguntungkan siswa yang berasal dari masyarakat kelas menengah saja. Persoalan ini akan segera dibahas dalam sub pokok berikut.


[1]Cooper, David E., op. cit., hlm. 64.
[2] Cooper, David E., op. cit., hlm 65-66.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: