Slogan : Kesempatan yang Setara untuk Memperoleh Pendidikan

Tuntutan agar setiap siswa mendapat ‘kesempatan yang setara untuk memperoleh pendidikan’ (equal educational opportunity) sering dipakai oleh kaum egalitarian sebagai argumentasi untuk mengatasi kesenjangan sosial-ekonomi dalam masyarakat. Mereka berasumsi bahwa semakin tinggi pendidikan, semakin cerah prospek  status sosial dan ekonomi masyarakat. Bryan Wilson sebetulnya telah mengingatkan bahwa kita tidak akan dapat berbuat banyak untuk memenuhi tuntutan yang terlalu ideal itu.[1] Tetapi untuk sementara kita akan mengabaikan dulu peringatan tersebut.

Sepintas lalu argumentasi di atas memperlihatkan hubungan sebab-akibat. Tetapi bila ditinjau lebih jauh ada dua kerancuan yang dapat ditemukan dalam tuntutan tersebut. Yang pertama adalah kerancuan teori. Kerancuan ini terdiri dari: kerancuan luasnya tuntutan, kerancuan objek tuntutan dan kerancuan subjek yang diperjuangkan. Kedua, kerancuan fakta yang terdiri dari:  kesempatan yang setara tidak menjamin kesetaraan status sosial-ekonomi; kesempatan yang setara tidak dengan sendirinya menciptakan relasi antar kelas.

3.1 Kerancuan teori

Tuntutan agar setiap siswa mendapat kesempatan yang setara untuk memperoleh  pendidikan secara teoritis tidak sepenuhnya jelas. Sebab, tuntutan tersebut dapat ditafsirkan dari berbagai sudut.

3.1.1 Luasnya tuntutan

Cakupan tuntutan slogan tersebut sebetulnya tidak jelas karena mengandung dua penafsiran yang berbeda: yakni, ‘kesempatan yang setara’ (equal opportunity) dan ‘kesetaraan dalam setiap kesempatan’ (equality of whatever opportunity). Pernyataan yang pertama dapat ditafsirkan sebagai kesempatan untuk melakukan atau memperoleh sesuatu tanpa menjelaskan kualitas kesempatan yang diperoleh. Misalnya, setiap anak Indonesia memiliki kesempatan untuk masuk sekolah dasar (SD). Pernyataan ini tidak berarti bahwa setiap anak Indonesia dapat masuk sekolah dasar terbaik di kota. Sedangkan penafsiran yang kedua yang kedua mengandung makna “kesetaraan yang merata’ (levelling equality) pada setiap bidang yang dituntut untuk disetarakan.

Perbedaan penafsiran ini menyebabkan tuntutan agar setiap siswa memperoleh kesempatan yang setara dalam pendidikan tidak sahih untuk dijadikan sebagai dasar kebijakan atau prinsip argumentatif.[2]

3.1.2. Objek tuntutan

Tuntutan ini tidak membedakan dengan tegas antara kesetaraan ‘kesempatan yang disediakan oleh pendidikan’ (provision sense) dan ‘kesempatan untuk memperoleh pendidikan’ (access sense). Yang pertama berkaitan erat dengan kesetaraan dalam hal materi pelajaran yang diterima setiap siswa setelah lulus sekolah, sedangkan yang kedua berkaitan dengan kesetaraan untuk memperoleh pendidikan itu sendiri. Tuntutan yang tidak menjelaskan objek tuntutannya – tidak akan dapat dipenuhi. Bagaimana mungkin memenuhi sebuah tuntutan kalau tuntutan itu sendiri tidak menegaskan apa yang dituntut?[3]

3.1.3 Subjek tuntutan

Tuntutan agar setiap siswa mendapat kesempatan yang setara untuk memperoleh pendidikan tidak menjelaskan subjek (siswa) yang diharapkan akan menikmati tuntutan tersebut. Tuntutan ini kerap digunakan oleh kaum egalitarian untuk memperjuangkan kesempatan anak dari kaum buruh untuk masuk sekolah atau universitas tanpa memperhitungkan kemampuan mereka. Tuntutan yang sama juga dapat dipakai untuk memperjuangkan siswa yang berasal dari kelas minoritas.[4] Dalam pengertian inilah tuntutan kesempatan yang setara untuk memperoleh pendidikan bersifat ideologis.

3.2 Kerancuan fakta

Kaum egalitarian beranggapan bahwa kesempatan yang setara untuk memperoleh pendidikan menghasilkan kesempatan yang setara untuk meraih status sosial-ekonomi. Pandangan ini tidak sepenuhnya benar. Berdasarkan penelitian lapangan, Christhoper Jencks mengatakan bahwa pendidikan tidak dapat berbuat banyak untuk menyetarakan status sosial-ekonomi masyarakat.[5]

3.2.1 Kesempatan memperoleh status sosial-ekonomi

Kaum egalitarian memiliki keyakinan bahwa pendidikan akan menjamim masa depan yang lebih baik. Pandangan seperti ini merupakan kebenaran yang bersifat kontingen. Sebab ada faktor lain yang menentukan keberhasilan siswa di masa depan seperti nasib baik dan kemauan untuk memanfaatkan kesempatan yang ada.[6]

3.2.2 Kesempatan untuk menjalin relasi antar kelas

Mereka yang menekankan pandangan ini menolak kenyataan bahwa hanya kelas tertentu saja yang menikmati kesempatan yang setara untuk memperoleh pendidikan. Mereka menuntut supaya setiap ‘pintu’ pendidikan (sekolah dasar, sekolah menengah dan perguruan tinggi) dibuka bagi semua kelas sosial. Dengan demikian akan terjadi apa yang disebut dengan kesetaraan antar kelas sosial’ (equality across classes). Tuntutan ini sulit diwujudkan, karena setiap orang mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Seandainya tuntutan itu tetap harus  dipenuhi, maka sekolah harus menyesuaikan diri dengan kemampuan siswa yang bermacam-ragam. Jika permasalahannya seperti ini, maka jalan keluarnya adalah melenyapkan penghalang yang merintangi kesempatan siswa untuk memperoleh pendidikan – bukan membuka ‘semua pintu’ sekolah bagi setiap siswa.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tuntutan kesempatan yang setara untuk memperoleh pendidikan selalu dapat diperdebatkan (argueable) karena mengandung penafsiran yang berbeda-beda. Dalam pengertian inilah tuntutan kesempatan yang setara untuk memperoleh pendidikan disebut ‘slogan’. Namun demikian, kaum egalitarian belum puas dengan argumentasi ini karena mereka melihat bahwa ketidaksetaraan dalam pendidikan melanggengkan kepincangan struktur sosial-ekonomi dalam masyarakat. Keberatan ini akan segera kita bahas pada sup pokok berikut.


[1] Wilson, Bryan, 1975, Education, Equality and Society, New York : Harper & Row Publishers, INC. hlm. 54.
[2] Cooper, David E., op. cit., hlm 67.
[3] Cooper, David E.,op. cit., hlm. 68.
[4] ‘Kelas minoritas’ yang dimaksudkan dalam kalimat ini adalah  masyarakat yang dianggap/dinilai berkualitas rendah. Misalnya, di Amerika Serikat, masyarakat yang dianggap minoritas adalah warga kulit hitam atau warga Asia.
[5] O’Hear, Anthony, 1981, Education,Society and Human Nature, London : Routledge & Kegan Paul Limited, hlm.138.
[6] Cooper, David E., op. cit.,  hlm. 72-73.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: