Pendidikan dan Sosiologi Pengetahuan

Kegagalan kesetaraan dalam pendidikan tetap menggugah para ahli untuk mencari akar permasalahannya. Kaum egalitarian mengatakan bahwa kegagalan kesetaraan dalam pendidikan tidak disebakan oleh minimnya rekayasa sosial seperti kebijakan pemerataan pendidikan, melainkan oleh kegagalan masyarakat untuk memahami hakekat pendidikan, pengetahuan dan inteligensi.

Pandangan ini memperlihatkan bahwa hakekat pendidikan dan pengetahuan tidak dapat dilepaskan dari proses penafsiran masyarakat. Artinya, pendidikan dan pengetahuan merupakan hasil konstruksi dan pendefinisan sosio-historis masyarakat. Jika kesahihan pengetahuan dan pendidikan ditentukan oleh masyarakat berdasarkan sejarah dan situasi sosialnya, maka pengetahuan itu memiliki ‘kelemahan objektivitas’ (lack of objectivity). Dalam konteks pemikiran seperti inilah kaum egalitarian mengajukan kritikan terhadap praktek pendidikan.[1]

2.1  Kritikan terhadap praktek pendidikan

Kritikan kaum egalitarian terhadap praktek pendidikan dapat diringkaskan dalam tiga butir argumentasi:

1)      Adalah kesalahan fatal membagi kurikulum dalam beberapa mata pelajaran atau disiplin ilmu (ilmu alam, ilmu bahasa dan sosial). Praktek seperti ini membutuhkan banyak pakar untuk setiap bidang ilmu tersebut. Praktek ini akan melahirkan akibat negatif bagi pendidikan. Sebab, mereka (pakar-pakar) akan cenderung menutup diri terhadap tantangan demokratis ahli-ahli muda. Mereka juga cenderung menutup diri terhadap pengetahuan keseharian, pengetahuan ‘jalanan’ dan pengetahuan rakyat banyak (folk) yang tumbuh subur di kalangan kaum buruh. Mereka tentu saja tidak akan menggolongkan pengetahuan-pengetahuan seperti itu sebagai mata pelajaran di sekolah. Pengetahuan-pengetahuan seperti itu dinilai sebagai sesuatu yang tidak bermutu. Dengan demikian, akan muncul ‘ketidaksinambungan’ (discontinuity) antara pengetahun tentang kehidupan sehari-hari dengan pelajaran yang mereka (siswa yang berasal dari keluarga kaum buruh) terima di sekolah. Dalam konteks inilah kaum egalitarian menilai bahwa pembagian kurikulum ke dalam beberapa mata pelajaran hanya menguntungkan siswa yang berasal dari kelas menengah. Mata pelajaran dalam kurikulum membicarakan apa yang dialami dan dicita-citakan masyarakat kelas menengah.

2)      Perbedaan posisi yang sangat jauh antara ‘guru dan siswa’ (teacher and taught) – ‘pemberi dan penerima pengetahuan’. Situasi ini memperlihatkan  ‘hubungan kewibawaan yang tidak simetris’ (asymmetrical authority relation) antara guru dan siswa. Guru mendidik siswa dengan keyakinan bahwa ia memiliki ‘kewibawaan yang sah’ (rightful authority) terhadap siswa. Guru merasa memiliki kewibawaan untuk mengajarkan mata pelajaran kepada siswa. Tanpa disadari situasi seperti ini mengondisikan siswa untuk menerima konsep ‘hirarki elitis dalam kehidupan bermasyarakat’ (the elitis hierarchy of social life).

3)      Ujian adalah bagian dari sistem pendidikan yang paling ditakuti oleh siswa. Sebab, bila mereka gagal dalam ujian, mereka tidak saja dihalangi untuk melanjutkan pendidikan, tetapi mereka juga akan merasa tidak berguna lagi. Kenyataan pahit ini akan membentuk ‘mentalitas budak – menerima setiap perlakuan layaknya seorang budak/pelayan terhadap tuannya’ (servile acceptance) dalam hirarki sosial.[2]

2.2 Pendekatan sosiologis

Kritikan kaum egalitarian terhadap pendidikan seperti dilukiskan di atas bersumber pada  dua pendekatan sosiologis.

1)      Pendekatan ‘sosiologi pengetahuan’ (sosiology of education[3]). Sosiologi pengetahuan mengatakan bahwa ‘investigasi hidup intelektual’  (investigation of intellectual life) dipengaruhi oleh kondisi sosial-historis.

2)      Pendekatan sosiologi fenomenologis. Sosiologi fenomenologis adalah bagian dari ilmu sosial yang menjelaskan perilaku sosial masyarakat berdasarkan tindakan yang kelihatan. Pendekatan ini tidak dapat menghindarkan diri dari pengaruh ‘pengetahuan subjek yang mengamati’ (knowlegde of agents). Pengetahuan yang dimiliki subjek menjadi jembatan bila si subjek harus menjelaskan perilaku yang telah diamatinya.

Dari dua pendekatan sosiologis di atas ini dapat ditarik tiga klaim sosiologis:

1)      Berdasarkan sosiologi fenomenologis, manusia dilihat sebagai penerjemah aktif yang menafsirkan dan mengklasifikasikan perilaku sosial masyarakat. Penafsiran dan klasifikasi terhadap perilaku sosial masyarakat tidak dapat dilepaskan dari kepercayaan, konsep dan tujuan yang sudah ada dalam diri subjek sebelum ia menafsirkan perilaku sosial masyarakat.

2)      Kepercayaan atau konsep baik yang disampaikan secara pribadi maupun kelompok, semata-mata demi memperkuat posisi sosial mereka. Dalam konteks inilah kaum egalitarian menilai bahwa pendidikan hanya dikembangkan untuk memperkuat posisi kelas menengah. [4]

3)      Konsep atau kepercayaan yang telah diterima oleh masyarakat pada gilirannya akan menjadi ‘reification[5]’. Dalam pengertian inilah kaum egalitarian menganggap kurikulum sebagai reifikasi dalam pendidikan.

2.3 Keberatan David Cooper

Ia menolak anggapan kaum egalitarian bahwa mata pelajaran/kurikulum merupakan reifikasi (dalam pendidikan) untuk memperkuat posisi masyarakat kelas menengah. Sebab, pengetahuan yang terkandung dalam mata pelajaran adalah hasil ‘penemuan manusia’ (human inventions[6]). Jadi, pelajaran dalam kurikulum bukan semata-mata refleksi guru-guru yang berasal dari kelas menengah (middle class teachers) demi kepentingan kelasnya sebagaimana dituduhkan kaum egalitarian. Pengetahuan yang terdapat dalam mata pelajaran mengandung kebenaran universal.[7]

Dari penjelasan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa kritikan terhadap ketidaksetaraan dalam pendidikan tidak ada kaitannya dengan ketidakmampuan masyarakat untuk memahami hakekat pendidikan atau pengetahuan. Artinya ketidaksetaraan dalam pendidikan bukan masalah  sosiologi pengetahuan. Kaum egalitarian tidak merasa puas dengan kesimpulan ini. Sebab, mereka mendasarkan kritikan terhadap pendidikan tidak semata-mata pada pendekatan sosiologis tetapi juga pada pendekatan epistemologis. Berikut ini kita  segera akan melihat sejauh mana pendekatan tersebut dapat diterima.


[1] Cooper, David E., op. cit., hlm. 107-108.
[1] Ibid., hlm. 109.
[2] Cooper, David E.,op. cit., hlm. 109.
[3] Sosiologi pengetahuan adalah bagian dari ilmu sosilogi yang mempelajari peran pendidikan dalam masyarakat. (bdk. Theodore C., 1992,The Sociology of Education, dalam Borgatta, Edgar F.& Borgatta, Namie L, Encyclopedia of Sociology  Vol, II, New york: Macmillan Publishing
Company, hlm1333). 
[4] Cooper, David E., op. cit., hlm 111
[5] Reifikasi adalah proses di mana kebiasaan perilaku dan pemikiran dinilai oleh anggota masyarakat seolah-olah berada di luar mereka dan memiliki dunia sendiri. Prilaku itu dapat berupa adat kebiasaan atau benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan. (bdk. Cavalcanti,H.B.,dalam Borgatta, Edgar F.& Borgatta, Namie L, op. cit., hlm. 1338)
[6] Kami membedakan invention dan discovery. Invention berarti menemukan (sesuatu) yang belum ada sebelumnya. Seperti penemuan rumus-rumus baru atau teknologi baru. Sedangkan discovery berarti menemukan sesuatu yang sudah ada sebelumnya tetapi belum diketahui oleh masyarakat luas. Misalnya, penemuan Benua Amerika oleh  Colombus.
[7] Cooper, David E., op. cit., hlm. 112.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: