Sosiologi dan Epistemologi

Kegagalan menciptakan kesetaraan dalam pendidikan terjadi karena masyarakat tidak mampu memahami arti sesungguhnya dari pendidikan dan pengetahuan. Pandangan kaum egalitarian ini mengandung pernyataan epistemologis.

3.1 Tiga tesis epistemologi

Setidak-tidaknya ada tiga pendekatan epistemologis yang dapat ditarik dari kritkan kaum egalitarian terhadap praktek pendidikan, yakni :[1]

3.1.1 Subjektivisme

Pengertian subjektivisme dapat dilihat dari beberapa sudut. Secara positif, subjektivisme adalah filsafat pengetahuan yang berangkat dengan ‘perasaan pribadi’  (private sensations), idea atau data-data yang ada dalam pikiran individu ketika hendak menilai sesuatu. Artinya, individu memiliki kategori-kategori apriori ketika ia menjelaskan, membenarkan atau mengklasifikasikan dunianya. Secara negatif, subjektivisme menolak eksistensi objek material. Yang benar-benar ada adalah idea-idea dalam pikiran manusia.[2]

Subjektivisme juga dapat dipahami sebagai bentuk penolakan terhadap objektivisme. Para penganut aliran objektivisme menolak pandangan bahwa manusia merupakan ‘pencipta dunia’ (world producer). Menurut mereka, manusia adalah ‘ciptaan dunia’ (world produced). Sebaliknya, subjektivisme melihat manusia sebagai pencipta ‘realitas’. Kebenaran realitas itu sendiri tergantung pada ‘pembenaran’ (justification) dari kelompok tertentu (community). Dalam pengertian inilah kaum egalitarian menilai pengetahuan sebagai hasil penemuan manusia. Pengertian serupa mereka pakai untuk menilai mata pelajaran di sekolah. Matematika, misalnya,  merupakan hasil penemuan manusia’ (invention) bukan sebagai hasil ‘pencarian’ (discovery). Karena matematika merupakan hasil penemuan manusia, maka kebenaran yang terkandung di dalamnya (matematika) membutuhkan persetujuan dari  kelompok tertentu (kelompok matematikawan).[3]

Subjektivisme sebagaimana dijelaskan di atas dapat juga digolongkan sebagai ‘pragmatisme yang ekstrim’ (strong pragmatism) dengan klaim utama: ‘semua kebenaran bersifat teoritis’. Kebenaran teoritis adalah kebenaran yang sesuai dengan teori yang sudah teruji kebenarannya. Jadi, sebelum manusia menyatakan sesuatu sebagai benar atau salah sudah diandaikan bahwa ada ‘teori’ dalam pikirannya. Misalnya, pernyataan yang mengatakan bahwa tissu ini mengandung DNA. Pernyataan ini dianggap benar bila teori biokimia dapat membuktikan bahwa ada DNA pada tissu tersebut. Namun, bila ada teori biokimia yang lebih canggih yang mampu membuktikan bahwa tidak ada DNA pada tissu tersebut, maka pernyataan itu dianggap salah. Perlu kita ingat bahwa sebelum para ahli membuktikan ada-tidaknya DNA pada tissu itu, mereka terlebih dahulu harus mempunyai kesepakatan mengenai apa yang dimaksud dengan DNA. Tampaklah bahwa selalu ada ‘teori yang tersembunyi’  (a lurking theory).  Artinya, manusia telah membuat sejumlah kriteria kebenaran sebelum ia mengklasifikasikan sesuatu.[4] Dalam pengertian inilah kaum egalitarian menuduh pembagian mata pelajaran dalam kurikulum semata-mata sebagai hasil kesepakatan-kesepakatan kelompok tertentu (masyarakat kelas menengah). Sebab, sebelum mata pelajaran diterapkan, masyarakat kelas menengah membuat kesepakatan terlebih dahulu mata pelajaran apa yang cocok untuk diajarkan di sekolah.

3.1.2 Monisme

Monisme adalah cara pandang filsafat yang menganggap dunia sebagai satu realitas saja. Semua unsur memiliki ketergantungan satu sama lain. Dalam pengertian inilah kaum egalitarian menyerang pembagian pengetahuan dalam kurikulum. Mata pelajaran hanya mengulas pengetahuan yang diharapkan oleh masyarakat kelas menengah padahal masih ada pengetahuan lain lagi di dunia ini.

3.1.3 Relativisme

Secara singkat relativisme dapat diartikan sebagai penolakan terhadap kebenaran universal. Manusia memiliki interpretasi yang berbeda-beda tentang dunia ini.[5] Para penganut aliran ini mengakui adanya  relativitas kriteria kebenaran. Kriteria ini terbuka terhadap relativitas sosial historis. Dengan kata lain, kebenaran selalu berdasarkan relevansi dan legitimasi tertentu ( certain relevance and legitimacies).[6] Dalam pengertian inilah kaum egalitarian mengeritik kewibawaan guru dan pembagian mata pelajaran dalam kurikulum. Kaum egalitarian beranggapan bahwa tidak ada kebenaran absolut yang dapat dijadikan landasan untuk memaksakan suatu kebenaran yang diakui oleh sebagian orang kepada orang lain. Guru tidak memiliki kewibawaan untuk mengatakan bahwa ada pengetahuan yang benar dan ada pengetahuan yang salah.

3.2 Keberatan David Cooper

Ia mengajukan beberapa alasan yang akan memperlihatkan kekeliruan kaum egalitarian:

1)      Kaum egalitarian terjebak dalam apa yang disebut dengan ‘tu quoque’ (Lat.: Engkau juga)[7]. Jika tidak ada kebenaran absolut maka kritikan kaum egalitarian tidak memiliki dasar argumentatif. Pernyataan “Tidak ada kebenaran dan kekeliruan absolut” tidak bisa diterima benar atau salah karena pernyataan ini sendiri telah mengatakan bahwa tidak ada kebenaran atau kesalahan absolut. Bagaimanapun kita harus menerima adanya kebenaran absolut. Kebenaran itu tidak muncul dengan sendirinya tetapi melalui sebuah pencarian berdasarkan teori dan prosedur yang ada. Dalam pengertian inilah mata pelajaran memiliki kebenaran terlepas dari apakah mata pelajaran itu ditetapkan oleh kelompok tertentu (masyarakat kelas menengah). Artinya, guru tetap memiliki kewibawaan untuk mengajarkan pengetahuan kepada siswa rasa kawatir bahwa ia dituduh sebagai’antek-antek’ kelas menengah.

2)      Relativisme menumbuhkan sikap ragu-ragu terhadap logika dan rasionalitas. Jika setiap pernyataan dapat diragukan maka tidak akan ada lagi logika dan rasionalitas. Meragukan sesuatu yang telah diterima kebenarannya oleh beberapa generasi membutuhkan pembuktian yang kuat. Logika matematis, misalnya, telah ada sejak dahulu kala. Bagaimana mungkin meragukan logika dan rasionalitas yang terkandung di dalamnya. Kalaupun ada logika atau rasionalitas alternatif, maka akan sulit untuk memasyarakatkannya. Alternatif itu merupakan alternatif yang terbatas  pada konteks tertentu. Misalnya, kaum egalitarian harus mencari rumus alternatif untuk 2 + 2  = 4. Sesuatu yang sulit, bukan?

3)      Bila penganut monisme menolak pembagian pengetahuan dalam pendidikan seperti yang ada sekarang ini, maka mereka harus menjelaskan bagaimana mungkin masyarakat dapat bertahan dalam kekeliruan itu. Lagi pula monisme tidak akan mampu mengajukan keberatan terhadap praktek pendidikan, seperti pembagian kurikulum, pembagian kelas, sistem seleksi dan lain-lain.[8]

Dari penjelasan ini kita dapat merangkumkan bahwa klaim-klaim sosiologis yang didukung oleh pendekatan epistemologis tidak memadai untuk mengeritik praktek pendidikan.


[1] Cooper, David E.,op. cit., hlm. 112-113.
[2] Wood, Ledger, 1979, Encyclopedia Americana, vol. 25, Danbury: Americana Corporation, hlm. 861.
[3] Cooper, David E., op. cit., hlm. 113.
[4] Cooper, David E., op. cit.,hlm. 11.
[5] Audi, Robert, op. cit., hlm. 690.
[6] Cooper, David E., op. cit., hlm.113.
[7] Istilah ini berasal dari “ Kai Su Tecnon” artinya : Engkau juga, Anakku! Kalimat yang lebih populer adalah : “Et Tu, Brute!. Kalimat ini diucapan oleh Julius Caesar ketika ia ditikam oleh Brutus, salah seorang anak tirinya dari selirnya, Servilia di hadapan Senat Romawi pada tahun 44 B.C. Dua tahun kemudian Brutus bunuh diri  setelah dikalahkanoleh Antonius dan Oktavianus, pengikut setia Caesar. (Martin, Lowell (ed), 1963, Encyclopedia International,  New York: Grolier Incorporated, hlm. 341)
[8] Cooper, David E., op.  cit., hlm. 118-119.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: