Kebudayaan

Agar diskusi ini tidak terjebak dalam permasalahan pengertian, David Cooper membatasi makna kebudayaan dalam dua pengertian yakni:

1)      Kebudayaan sebagai produk-produk sosial.

Dalam pengertian ini, kebudayaan dinilai berdasarkan produk-produk kebudayaan yang dihasilkan oleh masyarakat. Produk-produk itu dapat berupa bahasa, musik, seni drama, arsitektur dan teori-teori ilmiah (teori Big Bang, Teori Keadilan, teori DNA, teori Freud). ‘Manusia yang disebut berbudaya’ (cultured men) dalam konteks ini adalah mereka yang mengenal dan memiliki selera baik terhadap benda-benda klasik maupun benda-benda modern. Selain itu, mereka juga harus memiliki citra rasa tinggi terhadap setiap produk kebudayaan tersebut. Misalnya, mereka akan lebih tertarik pada lukisan Rembrandt daripada lukisan jalanan. Atau, mereka akan lebih senang mendengarkan musik klasik daripada musik pop murahan. Mereka akan lebih tertarik pada tulisan filsafat daripada cerita-cerita picisan.[1]

2)      Kebudayaan sebagai gaya hidup

Kebudayaan dalam pengertian ini sulit diidentifikasi dan dijelaskan. Raymond Williams mengartikannya sebagai ‘struktur perasaan’ (structure of feelings) yang dimiliki oleh masyarakat.  Struktur perasaan inilah yang menyebabkan perilaku satu masyarakat yang berbeda dengan masyarakat yang lain. Dalam pengertian ini, orang yang mengenal dan memiliki selera yang tinggi terhadap produk kebudayaan belum tentu merupakan ‘manusia yang berbudaya’. D. H. Lawrence mengatakan bahwa karangan yang mengisahkan lika-liku kehidupan kaum buruh dengan sangat baik, ternyata ditulis oleh orang yang tidak berasal dari kaum buruh itu sendiri. Jadi, sebaik apa pun tulisan itu, penulis tetap tidak akan mampu mengekspresikan struktur perasaan kaum buruh yang sesungguhnya. Demikian halnya dengan musik punk[2] yang ditulis oleh musisi yang berasal dari kelas menengah mengenai susahnya hidup di daerah kumuh. Sekalipun ia mampu menciptakan lagu hits tentang perih-getirnya kehidupan di perkampungan kumuh tetapi ia tidak mampu mengekspresikan sepenuhnya perasaan mereka yang tinggal di daerah kumuh tersebut. [3]

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa David Cooper membatasi pengertian kebudayaan pada dua pandangan, yakni kebudayaan sebagai produk-produk dan kebudayaan sebagai gaya hidup. Lantas bagaimana kedua pengertian ini dilihat dari kacamata relativisme budaya?  Pertanyaan ini mengantar kita pada diskusi berikut.


[1] Cooper, David E. op.cit., hlm. 135-136.
[2] Musik punk adalah aliran musik rock yang memiliki irama keras dan cepat. Musik ini mengalami masa jaya pada tahun 70-an.
[3] Cooper, David E., op. cit., hlm. 135-137.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: