Tanggapan Kritis

Secara umum argumentasi-argumentasi yang diberikan oleh David Cooper dapat dipahami dan memiliki kekuatan akademis. Metode pembahasan yang sistematis membuat kita dengan mudah dapat mengikuti alur pikirannya sehingga tanpa disadari kita dibimbing untuk menyetujui pendapatnya. Terlepas dari keunggulan buku tersebut, nampak ada beberapa hal yang pantas dijadikan koreksi untuk buku tersebut.

Tanggapan yang pertama, ia tidak membuat definisi tentang kesetaraan pada awal diskusi buku. Ia mengandaikan bahwa pembaca telah memahami apa itu kesetaraan. Di satu sisi, cara ini membantunya untuk dapat mengeritik secara leluasa setiap tuntutan akan kesetaraan. Di sisi lain pembaca akan bertanya-tanya apakah kesetaraan yang dimaksudkannya. Menurut kami, sebuah diskusi harus diawali dengan konsensus mengenai batasan-batasan bahan diskusi. Artinya, bila kita berbicara mengenai kesetaraan maka langkah pertama yang kita lakukan adalah membuat definisi mengenai kesetaraan itu sendiri. Kalau hal ini tidak dilakukan, maka setiap orang berhak membuat definisi masing-masing ketika mengajukan atau mengeritik tuntutan akan kesetaraan itu.

Tanggapan yang kedua, diskusi mengenai pendidikan bagaimanapun tidak pernah dapat dilepaskan dari persoalan tujuan hidup manusia. Pertanyaan mendasar yang harus dijawab oleh setiap sistem pendidikan adalah ‘apa artinya hidup; bagaimana hidup itu harus dijalani’. Pertanyaan ini merupakan ‘rel’ untuk menjawab tujuan pendidikan. David Cooper cenderung membatasi ‘hidup’ semata-mata pada realitas sosial menurut masyarakat kelas menengah. Ia tidak melihat bahwa kehidupan kaum buruh adalah sebuah kehidupan yang memiliki arti yang sama besarnya dengan kehidupan masyarakat kelas menengah. Tujuan hidup manusia adalah untuk mencapai kebahagiaan. Tujuan pendidikan harus sejalan dengan tujuan hidup tersebut. Jadi, tujuan pendidikan pertama-tama bukan untuk mencapai sukses di sekolah dan masyarakat, tetapi bagaimana setiap manusia mampu menerima dan bahagia dengan dirinya. Ada baiknya kita belajar dari A.S Neill yang mendirikan sekolah Summerhill, sebuah sekolah alternatif di pingiran kota London pada tahun 1921. Sekolah alternatif ini berusaha mendidik siswanya agar mampu menemukan siapa dirinya yang sesungguhnya dan bahagia dengan dirinya itu.[1] Hubungannya dengan kesetaraan adalah: mereka sama-sama menemukan dirinya masing-masing dan bahagia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Tanggapan yang ketiga, dalam beberapa hal David Cooper tidak membuat distingsi yang tegas antara pendidikan di sekolah dasar (elementary school), sekolah menengah (secondary school) dan perguruan tinggi. Kenyataan ini membuat pembaca harus menebak salah satu dari ketiga bentuk sekolah itu bila ia berbicara mengenai kesetaraan dalam pendidikan. Misalnya, dalam sub pokok Seleksi, pembaca pasti setuju bahwa anak yang memasuki sekolah dasar dan menengah tidak membutuhkan seleksi yang ketat karena dalam jenjang dasar seperti ini masih banyak kemungkinan yang dapat terjadi pada diri si anak. Tetapi hal ini tentu tidak berlaku bagi mereka yang akan melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Demikian pun halnya dengan tuntutan pembauran sosial. Tuntutan ini pantas diterapkan dalam semua sistem pendidikan sekolah dasar khususnya dalam masyarakat yang plural seperti Indonesia. Tetapi tuntutan ini sulit diterapkan pada sekolah lanjutan, karena setiap siswa akan memilih dan membeda-bedakan temannya dalam bergaul.

Tanggapan yang keempat, ia cenderung mendukung pendidikan tradisional, di mana siswa dituntut untuk menyesuaikan dirinya dengan sekolah. Pendidikan seperti ini mulai ditinggalkan. Adalah John Dewey yang menganjurkan supaya sekolah membantu siswa untuk menemukan dan merealisasikan minat dan bakatnya sejak dini.[2] Di Jepang pernah hidup sebuah sekolah yang benar-benar menerapkan prinsip ‘realisasi diri’ (self-realization) siswanya. Nama sekolah itu adalah Tamoe. Setiap siswa berhak membawa apa saja ke dalam kelas sesuai dengan keinginannya. Sesudah mereka dewasa minat itu menjadi keahlian mereka. Sayangnya, sekolah ini hancur ketika perang dunia sedang berkecamuk.[3]

Tanggapan yang kelima, David Cooper melihat masyarakat dengan ‘kaca mata hitam-putih’. Ia membagi masyarakat menjadi dua golongan saja yakni, kelas menengah dan kaum buruh. Masyarakat kelas menengah cenderung pandai dan masyarakat kaum buruh cenderung lebih bodoh. Padalah dalam kenyataan sehari-hari banyak tokoh-tokoh masyarakat yang berasal dari kaum buruh dan sebaliknya, tidak sedikit ‘sampah masyarakat berasal dari kelas menengah.

Tanggapan yang kelima, kami setuju bahwa Prinsip Perbedaan tidak dapat diterapkan untuk menolong siswa yang bodoh. Tetapi prinsip ini harus diterapkan untuk mencerdaskan masyarakat tertinggal/pedalaman. Dalam zaman modern ini masyarakat tetinggal/pedalaman menjadi korban kapitalisme. Keganasan P.T. Freeport merupakan lambang penindasan terhadap masyarakat tertinggal. Dalam konteks inilah Prinsip perbedaan John Rawls harus diterapkan. Harus! Negara harus memberi perhatian yang lebih besar kepada mereka, sama besarnya dengan perhatian yang diberikan kepada siswa yang pandai. Masyarakat pedalaman tidak dapat dikatakan identik dengan kebodohan, tetapi identik dengan ketidaktahuan. Kebodohan merupakan masalah intelektualitas, sementara ketidaktahuan merupakan masalah sosial-budaya. Seorang siswa yang yang telah duduk di kelas 6 SD dikatakan bodoh, bila ia belum mampu menjawab pertanyaan 2 +5. Tetapi ia tidak bisa dikatakan bodoh hanya karena ia tidak tahu bagaimana menghidupkan televisi, mengendarai sepeda motor, menyebutkan nama presiden Amerika, sesuatu yang asing dan belum pernah ia dengar sebelumnya.

Ada dua sisi buruk yang akan segera muncul bila dalam suatu masyarakat terdapat kesenjangan dalam pengetahuan. Pertama, masyarakat yang tertinggal secara intelektual rentan menjadi ‘budak’ bagi mereka yang lebih pandai. Paulo Freire, tokoh pendidikan pemebebasan telah memperlihatkan bahwa ada hubungan antara ‘kebodohan’ dan perbudakan.[4] Kedua, masyarakat yang secara intelektual diragukan kemampuannya, cenderung mengalami kesulitan bekerjasama dengan masyarakat untuk membangun lingkungannya.

Jika kita membiarkan mereka tetap tinggal dalam keterkungkungan, kita tidak berbeda dengan prajurit yang menanam ranjau di halaman campnya sendiri. Pelan namun pasti, kesenjangan dalam pengetahuan dapat menjadi ancaman serius bagi integrasi sebuah bangsa khususnya bangsa yang bermacam-ragam budaya, suku, ras dan agama seperti Indonesia.

Bagaimana mengatasi permasalahan ini? Tulisan ini tidak akan membicarakan kebijakan-kebijakan praktis untuk memecahkan kesenjangan dalam pengetahuan itu secara teknis. Tulisan ini hanya akan memberikan sumbangan pemikiran untuk mencari dana tambahan dalam mendukung perbaikan sistem pendidikan yang sudah ada. Bagaimanapun setiap perbaikan dalam kebijakan pemerataan pendidikan membutuhkan dana tambahan sementara salah satu kendala terbesar dalam membangun sistem pendidikan adalah minimnya dana pendidikan. Pemerintah dapat menerapkan kebijakan ‘subsidi silang’. Artinya, masyarakat yang secara ekonomis lebih mapan dituntut untuk memberikan sumbangan dana pendidikan yang lebih besar. Kebijakan seperti ini telah diterapkan dengan baik oleh mayoritas sekolah-sekolah yang dikelola oleh Yayasan Katolik. Keluarga yang lebih mampu dianjurkan untuk membayar dana pendidikan yang lebih besar daripada keluarga yang kurang mampu.


[1] Neil,A.S, Summerhill: Sekolah Radikal, dalam Naomi, Intan Omi (ed.), 1999, Menggugat Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
[2] Wynn,Ricard dan Wynn, Joanne Lindsay, op. cit., hlm. 10-11.
[3] Kuroyanagi, Tesuko, 1985, Totto Chan, si Gadis Kecil di Tepi Jendela, Jakarta: Panca Simpati, hlm. 124.
[4] Collins, Denis, 1999, Paulo Freire, Kehidupan, Karya dan Pemikirannya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hlm. 17-18

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: